Kota Mataram

Karang Baru Jadi Jantung Transformasi Ekonomi Biru di DAS Jangkuk

Mataram (NTBSatu) – Pengembangan Daerah Aliran Sungai (DAS) Jangkuk kini tengah diarahkan menjadi pengungkit ekonomi lokal berbasis sungai melalui strategi besar Waterfront Economic Frontier.

Konsep ini tidak hanya menjual keindahan alam, tetapi mengintegrasikan ruang hidup, ekonomi, dan wisata secara terpadu. Salah satu wilayah yang menjadi titik sentral dalam rencana ini adalah Kelurahan Karang Baru.

Sebagai bagian dari Zona Tengah dalam konsep Green–Blue Corridor, Karang Baru memiliki posisi strategis. Sebab, dari sembilan lingkungan yang ada, empat di antaranya bersentuhan langsung dengan aliran DAS Jangkuk.

Hal ini menjadikan kelurahan ini sebagai kandidat utama pusat aktivitas wisata air dan pemberdayaan ekonomi kreatif di Kota Mataram.

Lurah Karang Baru, Bilyadi Idul Islam, mengungkapkan langkah nyata penataan di wilayahnya sudah mulai menunjukkan progres meskipun secara bertahap.

“Terkait penataan DAS Jangkuk di Kelurahan Karang Baru memang sudah berjalan tetapi secara bertahap. Saat ini masih tahap pembuatan batu beronjong sama pembebasan jalan pinggir kali,” jelas Bilyadi, Rabu, 22 April 2026.

Ia juga menambahkan, meski anggaran sepenuhnya berada di bawah kendali dinas terkait, pihak kelurahan terus mengawal agar pembangunan tersebut tetap mengedepankan aspek fungsional bagi warga sekitar.

Transformasi ini rencananya mencakup pembangunan deck wisata, dermaga kecil (small harbor), hingga penataan jalur pedestrian yang aman dan terintegrasi bagi masyarakat. Selain pembangunan fisik, keberhasilan proyek ini sangat bergantung pada bagaimana masyarakat lokal mampu mengambil peran di dalamnya.

Ia berharap, rencana penyediaan kawasan kuliner dan kios UMKM dapat menyerap potensi ekonomi. Terutama, dari arus wisatawan arung jeram yang akan melintasi wilayah tersebut.

Bilyadi menilai, selama aspek kelestarian lingkungan tetap terjaga, konsep ini akan menjadi solusi jangka panjang bagi kesejahteraan warga di bantaran sungai.

“Sepanjang dari sisi lingkungan terpenuhi dan pemberdayaan masyarakat bisa berjalan, saya rasa ini sangat memungkinkan,” ujarnya optimistis.

Pada akhirnya harapannya, revitalisasi vegetasi tropis di sempadan sungai serta penguatan fasilitas wisata air berkelanjutan, mampu mengembalikan marwah sungai sebagai urat nadi kehidupan.

Perlu Kolaborasi

Perlu kolaborasi yang solid antara pemerintah kota dan masyarakat. Tujuannya, agar visi menjadikan sungai sebagai beranda depan kota dapat terwujud secara nyata.

Bagi Bilyadi, esensi dari seluruh penataan ini adalah dampak ekonomi yang langsung masyarakat bawah rasakan.

“Kunci dari penataan DAS Jangkuk adalah penguatan ekonomi masyarakat. Sungai harus kembali menjadi sumber kehidupan, bukan sekadar saluran air,” pungkasnya. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button