Sejarah Jalan “Port to Port” Lombok, Solusi Pengurai Kemacetan Jalur Barat ke Timur
Mataram (NTBSatu) – Kehadiran jalur strategis port to port membuat perjalanan warga Lombok dari arah Barat di Pelabuhan Lembar menuju arah Timur di Pelabuhan Kayangan, kini semakin mudah dan nyaman. Kehadiran jalur ini dinilai sebagai solusi ampuh untuk menghindari kemacetan panjang, yang dulu sering menghantui di jalur Tengah.
Jalan sepanjang 94 kilometer dari arah Barat ke Timur, dulunya selalu menjadi tantangan besar. Berdasarkan Feasibility Study (FS), pengendara terpaksa harus melewati titik-titik macet seperti di Pasar Narmada, Mantang, Jelojok, hingga Pasar Paok Motong.
Dengan kondisi jalan yang terlampau padat, sering kali menjadi pengganggu utama dalam pengiriman logistik atau sekadar untuk aktivitas sehari-hari warga.
Berawal dari Bisikan ke Presiden
Dikutip NTBSatu dari buku “Mengawal Mimpi, Sketsa Pemikiran” karya Lalu Gita Ariadi halaman 34 hingga 39, sejarah jalan ini dimulai sejak tahun 9 Februari 2016. Bertepatan dengan perayaan Hari Pers Nasional (HPN) di Kawasan Mandalika.
Dalam buku tersebut Lalu Gita menyebutkan, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat 2008-2018, Margiono secara langsung menyampaikan aspirasi warga Lombok kepada Presiden Joko Widodo.
Keinginan mereka agar pemerataan pembangunan terjadi di seluruh wilayah, dengan permintaan untuk dibangunkan jalur alternatif di sisi selatan. Lalu Gita Ariadi yang saat itu menjabat sebagai Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setda NTB 2016, menjelaskan visi besar di balik keinginan warga Lombok.
“Bila ruas sisi Selatan ini terbangun, akan mendorong pembangunan dan pengembangan wilayah. Daerah-daerah yang selama ini marjinal, bisa jadi akan tumbuh sebagai episentrum baru pengembangan perekonomian masyarakat,” tulisnya.
Presiden langsung merespon permintaan tersebut dengan cepat. Dari hasil FS, muncul beberapa pilihan pengembangan jalur sekaligus membandingkan efektivitas bagian Utara dan Selatan.
Hasil FS menjadi alasan Kementerian PUPR memilih membangun jalur Selatan, karena paling pas untuk memajukan ekonomi dan tidak merusak lahan pertanian di bagian Utara.
Menurutnya, langkah ini juga cukup menguntungkan. Sebab, memangkas jarak tempuh dari Pelabuhan Lembar ke arah Timur menjadi 80-85 kilometer dengan kualitas jalan yang semakin bagus.
Lalu Gita menyebut, jalur dari Giri Menang Square menuju Bundaran Bandara hingga Bundaran Songgong (by pass 3) sudah dalam kondisi baik.
Jalur ini hanya perlu sedikit sodetan sepanjang 10-15 kilometer. Dari sekitar Desa Pengengat/Sengkol yang menyisir pantai untuk tembus ke Labuan Lombok.
Mantan Pejabat (Pj.) Gubernur NTB 2023-2024 ini menegaskan, jalan ini akan menjadi kunci intervensi pemerintah terhadap wilayah yang tertinggal.
“Kantong-kantong kemiskinan akan bisa diintervensi melalui berbagai program pemberdayaan ekonomi. Disparitas pembangunan wilayah antara Utara dan Selatan, tidak lagi ada gap (kesenjangan, red) yang menganga,” ujarnya. (Inda)



