Pemerintahan

Menko Pangan Tekankan Pemasok Bahan Pangan MBG Harus Berbasis Desa

Lombok Barat (NTBSatu) – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Indonesia, Zulkifli Hasan alias Zulhas menegaskan, pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak boleh bergantung pada rantai pasok besar, melainkan harus menyerap bahan pangan langsung dari desa.

Hal ini Zulhas sampaikan dalam upacara Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-68 Lombok Barat. Menurutnya, program ini bukan sekadar memberikan makanan kepada anak-anak, tetapi menjadi bagian penting dalam membangun masa depan generasi Indonesia yang sehat dan cerdas.

“Ini bukan hanya program kasih makan gratis, ini membangun masa depan bangsa,” ujarnya, Jumat, 17 April 2026.

Zulhas menyebut, program MBG telah menyasar sekitar 82,9 juta anak di seluruh Indonesia. Dengan jumlah sebesar itu, kebutuhan bahan pangan menjadi sangat besar setiap harinya, mulai dari telur, ikan, sayur hingga buah.

“Bayangkan, kalau satu anak satu telur per hari, kita butuh 82,9 juta butir setiap hari. Itu harus disiapkan,” jelasnya.

Karena itu, ia menekankan, kebutuhan besar tersebut harus menjadi peluang bagi desa untuk tumbuh secara ekonomi. Ia menolak, jika bahan pangan justru disuplai oleh kelompok besar atau konglomerasi.

“Bahan baku harus diambil dari desa, bisa dari koperasi desa, BUMDes, atau UMKM. Jangan dari konglomerat,” tegasnya.

Dorong Pembentukan Koperasi Desa

Sebagai langkah konkret, pemerintah tengah mendorong pembentukan koperasi desa di seluruh Indonesia. Koperasi ini nantinya akan menjadi pusat distribusi sekaligus penggerak ekonomi lokal, termasuk dalam mendukung program makan bergizi.

Selain itu, pemerintah juga telah menyiapkan ribuan tenaga manajer untuk memperkuat operasional koperasi dan program ketahanan pangan berbasis desa. Koperasi juga akan mendapat pendampingan, agar mampu berjalan optimal sebelum menyerahkan sepenuhnya ke masyarakat.

Zulhas memastikan, hingga saat ini ketahanan pangan nasional dalam kondisi aman. Produksi beras meningkat dan kebutuhan pokok lainnya seperti ikan, ayam, serta sayuran tersedia cukup, meski di tengah dinamika global.

“Walaupun di luar ada konflik, kita pastikan pangan kita aman,” katanya.

Ia menegaskan, kunci utama keberhasilan program ini adalah membangun dari desa. Harapannya, dengan memperkuat desa sebagai pusat produksi dan distribusi pangan, program MBG tidak hanya berdampak pada kesehatan anak, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat secara luas. (Zani)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button