Dari Lingkungan ke Kota: Sinergi Grogot dan Kebon Talo Atasi Sampah
Mataram (NTBSatu) – Penanganan persoalan sampah di Kota Mataram kini kian intensif dilakukan hingga ke tingkat lingkungan.
Di Kelurahan Tanjung Karang Permai, pemangku kebijakan setempat mengalihkan fokus utama pada edukasi pemilahan sampah dari rumah tangga. Hal ini untuk mengurangi beban pembuangan di tempat pembuangan akhir.
Lurah Tanjung Karang Permai, Nani Nurkomala, S.Adm., mengungkapkan, pihaknya kini tengah masif mensosialisasikan inovasi Grogot (Gerakan Memilah Sampah dari Rumah).
Program ini mengajak warga di lima lingkungan. Mulai dari Lingkungan Barito hingga Lingkungan Bagik Kembar, untuk disiplin memisahkan sampah organik dan anorganik.
“Kami mencoba mengedukasi masyarakat melalui gerakan Grogot, yaitu memilah sampah dari rumah. Sampah-sampah organik ini nantinya kita arahkan untuk pakan maggot. Kami mengadopsi cara ini agar partisipasi masyarakat bisa membantu pemerintah kota mengatasi masalah sampah,” ujar Nani Nurkomala, Minggu, 5 April 2026.
Nani menambahkan, di wilayah pesisir seperti Lingkungan Bagik Kembar, keberadaan TPS Mobile menjadi krusial. Hal ini untuk memastikan kawasan pemukiman dan destinasi wisata tetap asri. Ia berharap, upaya ini mampu menciptakan kemandirian lingkungan di tengah tantangan efisiensi anggaran.
Selain edukasi, pihak kelurahan juga menyediakan TPS Mobile untuk memastikan sampah di lingkungan pemukiman dan kawasan wisata dapat terangkut dengan teratur.
Meskipun pemerintah kota sedang melakukan efisiensi anggaran, penanganan sampah tetap menjadi prioritas. Nani fokus pada penguatan kemandirian masyarakat di tingkat lingkungan.
Sejalan dengan gerakan di tingkat kelurahan, Pemerintah Kota Mataram melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) juga tengah menyiapkan langkah besar untuk memperkuat infrastruktur penanganan sampah kota.
Pemkot Mataram Beri Perhatian Khusus
Kepala Bappeda Kota Mataram, Lalu Bramantyo Ganeru, mengatakan pemerintah kota memberikan perhatian khusus pada optimalisasi lahan di Kebon Talo sebagai pusat penanganan sampah.
Pihaknya telah mengusulkan alokasi pembiayaan yang lebih besar. Tujuannya, agar fasilitas tersebut dapat beroperasi secara maksimal dan terintegrasi.
“Kami mengusulkan pembiayaan yang lebih besar untuk Kebon Talo. Tujuannya agar penanganan sampah di sana tidak lagi setengah-setengah. Serta, aset lahan yang ada bisa kita manfaatkan secara optimal untuk kepentingan publik,” tegas Lalu Bramantyo.
Sinergi antara edukasi “Grogot” di tingkat lingkungan dan revitalisasi sarana di Kebon Talo diharapkan menjadi solusi komprehensif bagi permasalahan sampah di Kota Mataram, sehingga citra sebagai kota pariwisata tetap terjaga dengan lingkungan yang bersih dan nyaman. (*)



