Civitas Akademika STKIP Taman Siswa Bima Perkuat Integritas Karakter Melalui Gerakan Subuh Berjemaah ke-15
“Mengingat kematian bukanlah tentang kepasrahan, melainkan cara untuk mengarahkan hidup kita agar lebih bermakna dan penuh integritas,” Ustaz Abdul Haris, S.Pd.I., Mahasiswa S2 Pedagogi STKIP Taman Siswa Bima.
———————
Bima (NTBSatu) – Civitas akademika STKIP Taman Siswa Bima memperkuat sinergi organisasi dan integritas moral, melalui penyelenggaraan Gerakan Subuh Berjamaah ke-15. Kegiatan ini berlangsung pada Jumat, 3 April 2026, sebagai bagian dari strategi besar “Pendidikan untuk Peradaban”.
Program rutin bulanan ini menggabungkan penguatan kohesi sosial antar-elemen kampus dengan pembangunan karakter berbasis nilai spiritual, untuk menghadapi tantangan dinamika akademik global. Langkah ini dinilai krusial dalam ekosistem pendidikan tinggi, guna menyeimbangkan antara keunggulan intelektual dengan kematangan etika.
Di tengah padatnya arus informasi dan tuntutan prestasi akademik, institusi memandang penguatan integritas melalui pendekatan rohaniah sebagai faktor penentu dalam menciptakan iklim kampus yang harmonis dan berorientasi pada kemajuan peradaban jangka panjang.
Dalam sesi refleksi melalui ceramah subuh yang dipimpin oleh Ustaz Abdul Haris, S.Pd.I., Mahasiswa S2 Pedagogi STKIP Taman Siswa Bima, ditekankan kecerdasan intelektual tanpa landasan moral yang kuat berisiko memicu disfungsi etika dalam praktik keilmuan. Ia menyoroti, fenomena budaya “wahan” atau kecintaan berlebih pada dunia yang dapat mengikis integritas individu jika tidak diimbangi dengan kesadaran eksistensial terhadap hakikat kehidupan.
“Mengingat kematian bukanlah tentang kepasrahan, melainkan cara untuk mengarahkan hidup kita agar lebih bermakna dan penuh integritas. Dengan menjaga kemurnian hati, setiap tindakan dan kebijakan yang lahir di lingkup akademis akan senantiasa berorientasi pada kemaslahatan publik,” ujarnya di hadapan dosen dan mahasiswa.
Abdul Haris menguraikan, indikator kecerdasan sejati dalam perspektif pengembangan karakter adalah kemampuan individu untuk berfokus pada dampak jangka panjang dan pengabdian. Bukan sekadar pencapaian juara akademik formal. Ia menekankan, pentingnya menjaga konsistensi dalam ibadah sebagai benteng dari sifat munafik yang merusak profesionalisme kerja.
Data internal program menunjukkan tren peningkatan partisipasi civitas akademika dari setiap edisi, yang mengindikasikan tumbuhnya kebutuhan kolektif akan wadah spiritualitas di luar struktur birokrasi formal. Secara manajerial, peningkatan ini dianalisis sebagai upaya membangun keterikatan emosional (emotional engagement) yang berkorelasi langsung dengan produktivitas dan loyalitas anggota organisasi.
Ciptakan Lingkungan Belajar Empati dan Suportif
Ketua STKIP Taman Siswa Bima, Dr. H. Ibnu Khaldun Sudirman, M.Si., menyatakan, kegiatan ini merupakan bagian integral dari strategi pengembangan sumber daya manusia di kampus. Menurutnya, program ini berfungsi sebagai laboratorium sosial untuk menginternalisasi nilai-nilai etis ke dalam dinamika profesional sehari-hari seluruh staf dan tenaga pendidik.
“Program ini menjadi instrumen untuk memastikan, proses transfer ilmu pengetahuan di kampus dibarengi dengan komitmen moral yang kuat. Kami berupaya agar nilai-nilai spiritualitas dapat diimplementasikan secara nyata dalam pelayanan dan interaksi akademik setiap hari,” jelasnya terkait visi keberlanjutan program tersebut.
Institusi menargetkan, terciptanya lingkungan belajar yang lebih empati dan suportif melalui penguatan gizi rohaniah secara periodik. Dampak yang diharapkan adalah peningkatan kualitas output riset dan pengajaran yang lebih beretika. Serta, pembentukan perilaku mahasiswa yang tidak hanya unggul secara teknis namun juga memiliki kedalaman empati sosial.
Ke depan, penyelenggara berkomitmen mengembangkan Gerakan Subuh Berjemaah dengan menyertakan kolaborasi lintas disiplin ilmu untuk merespons tantangan global dari perspektif moral. Evaluasi terhadap dampak budaya kerja dan kesejahteraan mental civitas akademika STKIP Taman Siswa Bima, akan menjadi dasar pijakan bagi penyelenggaraan edisi ke-16 mendatang. (*)



