Bupati Jarot Gaspol Selamatkan Hutan Sumbawa: Stop Jagung di Kawasan Negara, Satgas Diperkuat
Sumbawa Besar (NTBSatu) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumbawa menegaskan, arah pembangunan berbasis keberlanjutan dengan menyelamatkan hutan dan sumber daya alam. Sekaligus, menyelaraskan perencanaan daerah dengan kebijakan nasional dan global.
Bupati Sumbawa, Syarafuddin Jarot menegaskan, perencanaan pembangunan saat ini harus mampu menerjemahkan visi “Unggul Maju Sejahtera” ke dalam aksi nyata yang terukur dan berdampak langsung bagi masyarakat.
“Perencanaan ini kita arahkan untuk menerjemahkan visi misi ke dalam aksi nyata. Melalui rencana kerja perangkat daerah dari berbagai sumber pembiayaan,” tegas Bupati Jarot, Senin, 30 Maret 2026.
Ia juga menekankan, pembangunan daerah harus bersinergi dari tingkat kabupaten hingga nasional. Termasuk, melibatkan berbagai sumber pendanaan seperti APBD, APBN hingga partisipasi masyarakat dan CSR.
“Kita harus memastikan sinergitas antara visi daerah dengan program provinsi dan nasional agar pembangunan tidak berjalan sendiri-sendiri,” ujarnya.
Tiga Pilar Pembangunan Sumbawa
Ia juga menjelaskan arahan konsep pembangunan Sumbawa bertumpu pada tiga pilar utama, yakni people, power, dan planet yang terinspirasi dari prinsip global Sustainable Development Goals.
“Kalau manusianya unggul, pemerintahannya kuat, dan alamnya terjaga, maka kesejahteraan pasti tercapai,” jelasnya.
Pada aspek Sumber Daya Manusia (SDM), Pemkab mendorong peningkatan kualitasnya pendidikan dan keterampilan, termasuk melalui program beasiswa kedokteran bagi putra daerah dari wilayah terpencil.
“Kita ingin anak-anak dari desa terpencil kembali sebagai dokter di kampungnya sendiri, bukan sekadar datang lalu pergi,” katanya.
Sementara pada aspek tata kelola pemerintahan, ia menekankan percepatan digitalisasi dan monitoring kinerja secara rutin agar pembangunan berjalan efektif dan terukur. “Kita tidak boleh berjalan biasa-biasa saja, tetapi harus berlari mengejar target pembangunan,” ucapnya.
Di sisi lain, perhatian serius diberikan pada sektor lingkungan. Ia menyoroti kerusakan hutan yang berdampak pada bencana banjir dan krisis sumber air, sehingga langkah tegas diambil melalui pembentukan satgas dan penghentian izin di kawasan sensitif.
“Kita tidak bisa biarkan hutan terus dirusak. Kalau alam hancur, semua yang kita bangun akan sia-sia,” tambahnya.
Lebih tegas lagi, pemerintah akan melarang aktivitas penanaman jagung di kawasan hutan negara sebagai bagian dari upaya pemulihan ekosistem. “Menanam jagung di hutan negara itu melanggar aturan. Kita hanya mengembalikan fungsi hutan sesuai regulasi,” lanjutnya.
Minta Masyarakat Beralih ke Tanaman Produktif
Sebagai solusi, pemerintah mendorong masyarakat beralih ke tanaman produktif yang lebih ramah lingkungan seperti buah-buahan dan tanaman kehutanan. “Kita siapkan bibit gratis. Silakan tanam kopi, mete, atau tanaman produktif lain yang menjaga lingkungan,” ungkapnya.
Dalam upaya penyelamatan hutan tidak bisa ditunda karena menyangkut masa depan generasi mendatang. “Ini bukan soal hari ini, tetapi soal anak cucu kita. Hutan dan mata air harus kita selamatkan sekarang,” tegasnya.
Pemkab Sumbawa menargetkan pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan dan keberlanjutan jangka panjang. (Marwah)



