Oleh: AA Rahman*
Idulfitri bukan sekadar bulan Syawal yang usai; ia adalah ruang dan waktu di mana kalbu-kalbu yang sempat terpisah oleh ego dan perbedaan, kembali dipertemukan dalam denyut fitrah yang sama. Dalam tradisi kelembagaan di negeri ini, momen ini kerap dirayakan dengan megah dalam balutan open house —sebuah simbol pintu yang terbuka lebar, menyambut siapa saja yang datang.
Namun, di tengah hingar bingar kemeriahan yang lazim itu, sebuah gerak lain muncul dari pucuk pimpinan tertinggi Universitas Mataram. Rektor baru tidak memilih untuk duduk bersila di singgasana seremonial menanti hadirnya para tamu. Beliau justru memilih untuk berjalan. Berkeliling dari satu rumah ke rumah lain, merayapi jalan-jalan yang mungkin jarang dilewati oleh arak-arakan protokoler. Di sela hari-hari penuh kemenangan itu, beliau menyambangi para mantan rival dalam kontestasi pemilihan rektor, duduk sejenak dengan para senior yang telah membangun fondasi kampus ini, bersilaturahmi dengan jajaran biro, dekan, dan wakil dekan.
Bagi saya, ini bukan sekadar perubahan protokol. Ini adalah sebuah budaya baru dalam kepemimpinan—sebuah gerak yang membawa makna jauh lebih dalam dari sekadar kunjungan fisik. Ini adalah sebuah “filsafat langkah” yang patut kita renungkan bersama.
Pemimpin yang Merendah untuk Meninggikan Silaturahmi
Dalam filosofi kepemimpinan Jawa, dikenal konsep ‘andhap asor’—rendah hati. Namun, rendah hati yang sesungguhnya tidak diukur dari seberapa rendah seseorang membungkuk, tetapi seberapa jauh ia bersedia melangkah keluar dari zona kekuasaannya. Dengan memilih berkeliling, Rektor menunjukkan bahwa kekuasaan bukanlah pusat gravitasi yang menarik semua orang ke dalam orbitnya, melainkan energi yang harus dialirkan dengan menjemput, merangkul, dan menghidupkan relasi.
Dalam tindakan itu, terdapat pesan eksistensial: bahwa seorang pemimpin bukanlah “poros” yang dikelilingi, melainkan “rantai” yang menyambung. Ia tidak menunggu di puncak, tetapi turun ke lembah untuk memastikan bahwa tidak ada satu mata rantai pun yang putus.
Menyapa Mantan Rival: Sebuah Dekonstruksi Kekuasaan
Aspek yang paling menyentak sekaligus paling reflektif adalah kunjungan ke rumah para mantan rival. Dalam panggung politik kampus, rivalitas sering meninggalkan luka, tembok, dan jarak. Namun dengan langkah itu, sang pemimpin telah mendekonstruksi makna kekuasaan itu sendiri.
Ia menunjukkan bahwa jabatan adalah amanah yang tidak perlu dibayar dengan permusuhan. Bahwa perbedaan dalam kontestasi adalah perbedaan metode, bukan musuh yang harus diasingkan. Dengan membuka pintu—atau justru mendatangi pintu mereka—beliau mengajarkan kepada kita semua, para civitas akademika, bahwa kehormatan tertinggi seorang intelektual bukan terletak pada seberapa banyak orang yang tunduk kepadanya, tetapi pada seberapa banyak luka yang ia mampu sembuhkan dengan ketulusan.
Kampus sebagai Ekosistem Harmoni
Universitas Mataram, sebagai institusi pendidikan tinggi, tidak hanya dituntut untuk melahirkan lulusan yang cerdas secara intelektual, tetapi juga manusia yang utuh secara sosial dan spiritual. Budaya kepemimpinan yang egaliter ini adalah kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) yang sangat berharga bagi mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan.
Ketika para pemimpinnya memilih untuk berjalan kaki menyapa kolega, merangkul bawahan, dan menghormati senior tanpa dikerumuni atribut kekuasaan, ia sedang menuliskan naskah baru tentang bagaimana seharusnya sebuah komunitas ilmiah berperilaku: bahwa hierarki dalam struktur tidak pernah boleh menghilangkan kesetaraan dalam rasa.
Ini adalah harmoni yang dibangun bukan di atas meja bundar rapat, tetapi di atas lantai rumah yang sederhana, ditemani secangkir teh hangat dan tawa yang tulus. Harmoni yang tumbuh dari pengakuan bahwa setiap elemen kampus—baik ia mantan rival, senior yang mulai senja, atau birokrat yang sibuk—adalah bagian dari satu kesatuan organik yang sama-sama menopang marwah universitas.
Budaya yang Layak Dilanjutkan: Warisan bagi Generasi Mendatang
Kita sering berbicara tentang good governance dan leadership dalam seminar-seminar akademik. Namun seringkali, praktik terbaik justru lahir dari kesederhanaan yang tidak direncanakan dalam agenda. Langkah kecil ini—berkeliling di hari Idulfitri—adalah sebuah warisan budaya organisasi yang tak ternilai.
Ini adalah teladan bahwa seorang pemimpin di Unram adalah “pamong” dalam arti sebenarnya: ia bukan tuan yang dilayani, melainkan pengayom yang melayani dengan berjalan bersama. Budaya ini mengajarkan bahwa kekuasaan itu fana, tetapi jejak langkah yang egaliter akan dikenang sebagai fondasi kebersamaan.
Untuk itu, mari kita rawat budaya baru ini. Bukan hanya sebagai tradisi musiman di setiap Idulfitri, tetapi sebagai ethos yang meresap dalam setiap denyut kepemimpinan di universitas ini. Karena pada akhirnya, Universitas Mataram tidak akan diukur dari seberapa tinggi gedung rektoratnya, tetapi dari seberapa rendah hati para pemimpinnya merunduk untuk mendengar, dan seberapa jauh mereka melangkah untuk merangkul.
Di balik langkah berkeliling itu, ada pesan abadi: bahwa untuk membangun institusi yang besar, kita tidak cukup hanya duduk bersama di puncak; kita harus mau berjalan bersama di akar.
Selamat merenungi budaya baru ini, Unram. Semoga harmoni ini terus menumbuhkan kearifan di bumi gora ini. (*)
*Penulis adalah bagian dari civitas akademika yang menyaksikan dan merenungi pergulatan nilai dalam kepemimpinan di lingkungan pendidikan tinggi.



