Sumbawa

Dikes Sumbawa Catat Ratusan Kasus GHPR, Dua Korban Meninggal Akibat Terlambat Ditangani

Sumbawa Besar (NTBSatu) – Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Sumbawa mencatat sebanyak 110 kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) hingga awal tahun 2026. Dari jumlah tersebut, dua kasus berujung kematian.

Kepala Dikes Sumbawa, Sarip Hidayat menjelaskan, tingginya angka gigitan didominasi oleh hewan anjing yang banyak dipelihara masyarakat.

IKLAN

“Berdasarkan data, ada 110 kasus gigitan hewan penular rabies dan ada dua kasus kematian hingga awal tahun 2026,” ungkapnya kepada NTBSatu, Selasa, 24 Maret 2026.

Ia mengatakan, laporan kasus gigitan terus muncul hampir setiap hari di berbagai wilayah di Kabupaten Sumbawa. Selain anjing, beberapa kasus juga berasal dari hewan lain, namun jumlahnya tidak sebanyak gigitan anjing.

IKLAN

“Dari laporan harian, hampir setiap hari ada kasus gigitan. Paling banyak oleh anjing,” katanya.

IKLAN

Sarip menjelaskan, dua kasus yang menelan korban terjadi karena korban tidak segera mendapatkan penanganan medis setelah tergigit. Korban menganggap luka yang dialami ringan sehingga tidak mendatangi fasilitas kesehatan.

“Korban tidak mendapatkan vaksin anti rabies karena menganggap gigitan ringan dan tidak langsung ke fasilitas kesehatan,” jelasnya.

Ia menegaskan, setiap gigitan hewan penular rabies tetap berisiko, baik dari anjing, kucing, monyet, maupun kelelawar. Karena itu, masyarakat perlu segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan meskipun luka terlihat ringan.

“Setiap gigitan harus ditangani sesuai prosedur, termasuk pemberian vaksin anti rabies,” tegasnya.

Di sisi lain, Sarip menjamin telah menyiapkan seluruh puskesmas sebagai rabies center dengan tenaga kesehatan yang telah mendapat pelatihan.

“Semua puskesmas sudah siap memberikan penanganan bagi kasus gigitan,” ujarnya.

Ia menambahkan, penanganan cepat dan kesadaran masyarakat menjadi kunci untuk menekan angka kematian akibat rabies di Kabupaten Sumbawa.

“Kalau masyarakat cepat datang ke fasilitas kesehatan, risiko kematian bisa diminimalkan,” tegasnya. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button