Antisipasi Campak, Dinkes NTB Ingatkan Tak Sembarang Cium Bayi saat Lebaran
Mataram (NTBSatu) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), meminta masyarakat untuk waspada terhadap risiko penularan penyakit campak pada bayi dan anak-anak, selama masa libur Idulfitri.
Kepala Dinas Kesehatan NTB, dr. Lalu Hamzi Fikri menilai, mobilitas penduduk yang tinggi dan adanya tradisi silaturahmi, yang memicu kerumunan fisik berpotensi sebagai faktor risiko utama penyebaran virus campak, melalui kontak dekat.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat agar tidak sembarangan melakukan kontak langsung, dengan bayi dan balita.
“Kami mengimbau kepada masyarakat untuk tidak sembarangan menyentuh, menggendong, atau mencium bayi dan balita. Terutama saat berkumpul bersama keluarga dalam momen silaturahmi Lebaran,” katanya, melalui keterangan tertulis pada NTBSatu, Minggu, 15 Maret 2026.
Saat ini, ancaman campak menjadi masalah serius. Mengingat penularannya yang sangat cepat. Termasuk bagi kelompok yang belum memiliki metabolisme kuat, dan belum mendapat imunisasi lengkap.
Sedangkan dalam tradisi Lebaran, interaksi maupun kontak fisik antar generasi seringkali tidak bisa dihindari. Namun kebiasaan ini justru menempatkan bayi dan balita, dalam posisi rentan.
Faktor Risiko dan Mitigasi
Sebagai informasi, pemicu risiko penularan tidak hanya dari kerumunan, tetapi status imunisasi anak.
Tanpa adanya perlindungan atau imunisasi berupa vaksinasi yang memadai, virus campak bisa dengan mudah masuk, dan mengakibatkan komplikasi serius pada anak.
Sebagai langkah mitigasi, Dinas Kesehatan NTB menekankan beberapa protokol kesehatan dasar, yang harus masyarakat taati.
Di antaranya, mulai dari membatasi kontak fisik, seperti kebiasaan menyentuh dan mencium, atau menggendong anak secara bergantian. Kemudian kesadaran akan kondisi tubuh, serta memperhatikan kebersihan personal.
”Pastikan anak telah mendapatkan imunisasi campak lengkap sebelum dibawa bepergian atau bertemu orang banyak,” tegas Lalu Hamzi.
Melampaui Tradisi
Dinas Kesehatan NTB menegaskan imbauan ini bukan membatasi makna silaturahmi, tetapi sebagai upaya adaptasi demi keselamatan anggota keluarga yang paling kecil.
Kesederhanaan untuk menjaga jarak fisik dengan bayi dan balita, bukan memutus kehangatan keluarga. Melainkan sebagai kasih sayang yang lebih bertanggung jawab di masa transisi kesehatan, dan rawan virus campak.
Ia berharap, imbauan ini tidak hanya berlaku saat momen Idulfitri, namun perlu menjadi standar baru dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini untuk menekan angka kasus campak secara nasional.
Fikri berharap, dengan menjaga tradisi yang lebih sehat, perayaan Idulfitri bisa tetap berjalan hangat tanpa meninggalkan masalah kesehatan bagi generasi mendatang. (Inda)



