Evaluasi BGN Temuan MBG Ramadan 2026 di NTB, Soroti Standar Gizi hingga Bahan Baku Tidak Layak
Mataram (NTBSatu) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada awal Ramadan 2026 memasuki tahap evaluasi nasional oleh Badan Gizi Nasional (BGN) RI.
Evaluasi tersebut menyoroti kesiapan distribusi, mutu menu, ketepatan sasaran penerima manfaat, serta transparansi anggaran selama bulan puasa. BGN ingin memastikan asupan gizi anak tetap terpenuhi meski pola konsumsi berubah saat Ramadan.
Melansir Instagram @badangizinasional.ri, Kepala BGN, Dadan Hindayana menegaskan, pentingnya evaluasi agar standar tetap terjaga. “Kami ingin memastikan bahwa pelaksanaan MBG Ramadan tetap sesuai standar gizi, tepat sasaran, serta transparan dari sisi penggunaan anggaran. Evaluasi ini penting agar tidak terjadi kesalahpahaman di ruang publik,” ungkapnya melalui unggahan tersebut.
Evaluasi MBG Awal Ramadan 2026
Melansir Instagram @badangizinasional.ri pada Kamis, 26 Februari 2026, berikut ini hasil evaluasi pelaksanaan MBG awal Ramadan 2026:
1. Kemasan
BGN mewajibkan mitra menggunakan wadah yang representatif, higienis, serta mampu menjaga mutu makanan. Penggunaan kantong plastik sederhana tidak memenuhi standar perlindungan pangan. Kemasan harus menjaga kebersihan dan kualitas hingga waktu konsumsi.
2. Komposisi Menu dan Standar Gizi
Setiap SPPG wajib menyusun menu sesuai pagu anggaran dan standar gizi nasional. BGN mendorong penyesuaian bahan pangan berdasarkan nilai gizi dan penerimaan masyarakat. Telur lebih direkomendasikan sebagai sumber protein utama dibanding kacang karena harga lebih efisien dan citra protein lebih kuat.
3. Pengadaan Peralatan Vakum
SPPG perlu menghadirkan peralatan vakum guna memperpanjang masa simpan makanan. Langkah ini menjaga kualitas menu, terutama saat jeda waktu antara pengantaran dan konsumsi cukup panjang.
4. Penanganan Bahan Baku Tidak Layak
SPPG harus menolak bahan baku yang tidak layak konsumsi. Penggantian pada hari berikutnya menjadi solusi yang lebih aman daripada memaksakan distribusi bahan bermasalah.
5. Transparansi AKG dan Rincian Harga
Setiap paket wajib mencantumkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) serta rincian biaya.
Porsi kecil Rp13.000 untuk TK/RA/KB, SD kelas 1–3, dan balita dengan komposisi bahan baku Rp8.000, operasional Rp3.000, serta insentif Rp2.000.
Porsi besar Rp15.000 untuk SD kelas 4–6, SMP, ibu hamil, dan ibu menyusui dengan komposisi bahan baku Rp10.000, operasional Rp3.000, serta insentif Rp2.000.
6. Laporan Menu Harian
Setiap SPPG wajib mengunggah menu harian lengkap dengan perhitungan AKG melalui media sosial resmi sebagai bentuk akuntabilitas publik.
Pelaksanaan MBG Awal Ramadan 2026 di NTB
Berdasarkan penelusuran NTBSatu , berikut ini sejumlah temuan muncul di wilayah NTB pada awal Ramadan:
1. Dugaan Kurma Berulat – SMPN 2 Mataram
Kabar mengenai dugaan kurma berulat muncul pada paket Ramadan untuk siswa SMPN 2 Mataram. Kepala Tata Usaha (KTU) SMPN 2 Mataram, Pena Riadien menjelaskan, paket memang berisi kurma, namun sekolah belum menerima laporan resmi.
“Paket Ramadan kan memang ada kurma di sana. Tetapi, sejauh ini belum ada laporan terkait dengan adanya apa tadi, yang berulat-berulat itu,” katanya, 25 Februari 2026.
Guru kelas menyalurkan paket sekaligus mencatat setiap keluhan untuk diteruskan kepada panitia SPPG.
2. Dugaan Puding Basi – SDN 2 Cakranegara
Wali murid melaporkan dugaan puding berbusa dan berair kepada Ombudsman NTB. Kasus tersebut terjadi pada siswa SDN 2 Cakranegara.
Kepala Perwakilan Ombudsman NTB, Dwi Sudarsono, menemukan jeda waktu panjang antara pengantaran pagi dan konsumsi saat berbuka.
“Tidak semua siswa punya kulkas atau pendingin. Bahkan, bisa jadi tidak semua siswa menyampaikan kepada orang tuanya ada MBG yang dibawa pulang. Sehingga, saat dikeluarkan dari tas sekolah sudah rusak,” katanya, 24 Februari 2026.
3. Kemasan Plastik Putih – SMAN 9 Mataram
Siswa SMAN 9 Mataram menerima paket kering berupa roti meses, telur rebus, apel, serta keripik tempe dalam plastik putih. Praktik ini tidak selaras dengan standar kemasan higienis yang BGN tetapkan.
“Kemasan tidak hanya dalam kantong plastik tetapi dalam tempat yang representatif, higienis, dan mampu menjaga kualitas makanan,” tulis Instagram @badangizinasional.ri.
4. Menu Tanpa Telur – SPPG Lajut Praya Tengah
Akun Facebook SPPG Lajut Praya Tengah menampilkan menu berisi susu, roti meses, rambutan, serta kacang koro tanpa telur. Komposisi tersebut tidak mengikuti anjuran BGN yang mendorong penggunaan telur sebagai sumber protein utama pengganti kacang.
“Mitra diminta menyesuaikan komposisi menu dengan mengganti kacang menjadi telur tanpa mengurangi nilai gizi,” tambahnya.
Rangkaian temuan MBG Ramadan 2026 di NTB menunjukkan perlunya pengawasan ketat, kepatuhan standar gizi, serta penguatan manajemen distribusi agar program berjalan konsisten. (*)



