Kesepakatan Dagang Indonesia dan AS Capai Rp647 Triliun Jelang Pertemuan Prabowo-Trump
Jakarta (NTBSatu) – Indonesia dan Amerika Serikat (AS), menandatangani serangkaian kesepakatan bisnis senilai USD 38,4 miliar atau sekitar Rp647,6 triliun (kurs Rp16.914), Rabu, 18 Februari 2026.
Kesepakatan ini diteken sehari sebelum Presiden Prabowo Subianto bertemu Presiden AS, Donald Trump untuk menandatangani pakta dagang final, sebagaimana dikonfirmasi US-ASEAN Business Council.
Dalam lembar fakta yang dirilis lembaga tersebut, kesepakatan mencakup pembelian komoditas pertanian AS oleh perusahaan Indonesia. Di antaranya, 1 juta ton metrik kedelai, 1,6 juta ton jagung, serta 93 ribu ton kapas dalam periode yang belum dirinci. Indonesia juga disebut akan membeli 1 juta ton gandum tahun ini dan hingga 5 juta ton pada 2030.
Selain sektor pangan, kerja sama juga mencakup penandatanganan nota kesepahaman antara perusahaan tambang AS Freeport-McMoRan dan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM terkait pengembangan mineral kritis.
Di sektor energi, kesepakatan turut melibatkan produsen minyak negara Pertamina dengan perusahaan jasa energi Halliburton dalam kerja sama pemulihan ladang minyak.
CEO Freeport-McMoRan, Richard Adkerson mengatakan, pihaknya bersama BKPM menandatangani kesepakatan awal untuk memperpanjang izin tambang melampaui 2041.
“Ini merupakan perpanjangan umur sumber daya dan kami tidak sabar melakukan pengeboran delineasi untuk mengetahui potensi tubuh bijih selama beberapa dekade ke depan,” kata Adkerson, dikutip dari Reuters, Kamis, 19 Februari 2026.
Rincian Kesepakatan Dagang
Kesepakatan juga meliputi dua joint venture di sektor semikonduktor. Salah satunya, bernilai USD 4,89 miliar antara Essence Global Group dan mitra Indonesia. Sementara itu, proyek lain melibatkan Tynergy Technology Group tanpa nilai yang diungkapkan.
US-ASEAN Business Council memperkirakan, nilai pembelian kedelai Indonesia mencapai USD 685 juta, gandum USD 1,25 miliar, kapas USD 122 juta. Serta, tambahan impor pakaian bekas cacah dari AS untuk didaur ulang senilai USD 200 juta.
Data perdagangan U.S. Census Bureau menunjukkan, dalam periode 2015–2024 Indonesia rata-rata mengimpor 2,3 juta ton kedelai AS per tahun. Hampir 800 ribu ton gandum, sekitar 180 ribu ton kapas, serta kurang dari 100 ribu ton jagung.
Nilai impor produk pertanian AS oleh Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mencapai sekitar USD 3 miliar per tahun. Hal ini menjadikan Indonesia pasar terbesar ke-11 bagi komoditas pertanian AS.
Meski begitu, tidak seluruh nilai transaksi diungkap, termasuk pembelian produk kayu dan furnitur AS. Indonesia sebelumnya pada Juli mengumumkan kesepakatan bisnis dengan AS senilai USD 34 miliar sebagai bagian dari negosiasi tarif. Termasuk, impor gandum dan kedelai yang serupa dengan kesepakatan terbaru.
Prabowo menyatakan, kesepakatan tersebut merupakan bagian dari implementasi perjanjian dagang Indonesia–AS yang akan diteken bersama Trump pada Kamis, 19 Februari 2026. Serta, diharapkan membantu menekan surplus perdagangan Indonesia terhadap AS.
“Saya sangat optimistis mengenai masa depan hubungan kita,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Perwakilan Dagang AS, Rick Switzer tidak merinci besaran tarif final bagi Indonesia. Namun ia menegaskan, Agreement on Reciprocal Trade antara kedua negara akan memperkuat hubungan ekonomi dan perdagangan bilateral.
“Perjanjian ini akan berarti lebih banyak perdagangan, lebih banyak investasi, serta hubungan ekonomi yang lebih dalam dan komprehensif,” kata Switzer. (*)



