Kota Mataram

Miniatur NKRI di Taman Seruni

Mataram (NTBSatu) – Di sudut Kota Mataram, tepatnya di Lingkungan Taman Seruni, Kelurahan Taman Sari, Kecamatan Ampenan, harmoni antarumat beragama bukan sekadar slogan. Masjid berdiri berdampingan dengan pura dan gereja. Namun, tak pernah ada bentrok, apalagi gejolak.

Kepala Lingkungan Taman Seruni, Ust. H. Kamaludin, QH., S.Ag., menegaskan, kunci kedamaian di wilayahnya terletak pada komitmen bersama menjaga rasa aman dan menjunjung tinggi nilai Pancasila.

“Di bawah kepemimpinan saya, wajib semua merasa aman, tidak boleh terusik,” tegasnya kepada NTBSatu, Kamis, 12 Februari 2026. 

Ia bahkan melarang warganya mempertanyakan latar belakang agama maupun suku satu sama lain. Baginya, Taman Seruni adalah miniatur Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Saya sampaikan ke masyarakat, tidak boleh ada yang bertanya kamu agama apa, suku mana. Kita buat ini sebagai miniatur NKRI. Kita saling jaga di sini,” ujarnya.

Moderasi Diakui Nasional 

Lingkungan dengan jumlah 1.184 jiwa dan 319 kepala keluarga ini memang dikenal sebagai kawasan heterogen. Seluruh warganya merupakan pendatang dengan latar belakang beragam, namun rata-rata memiliki tingkat pendidikan yang baik. 

Hal itu, menurut Kamaludin, memudahkan proses pembinaan dan penguatan nilai kebangsaan. Tak heran, Taman Seruni meraih sejumlah penghargaan bergengsi, di antaranya:

  1. Kampung Moderasi dari Kementerian Agama RI (2021);
  2. Kampung Pancasila dari Mabes TNI AD (Danterad) tahun 2022;
  3. Kampung Terfavorit Pilihan Pembaca se-NTB oleh Lombok Post (2020).

“Kenapa bisa dapat penghargaan? Karena mereka melihat kondisi di lingkungan ini sangat variatif, tapi tetap adem ayem,” jelas Kamaludin yang juga seorang pemuka agama tersebut. 

Menurutnya, moderasi beragama bukan sesuatu yang rumit. Kuncinya sederhana yakni hanya  mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

“Ketika kita bisa mengamalkan Pancasila, kita bisa menjalankan hal-hal bijak itu. Selama kita berpedoman pada Pancasila, aman kok kehidupan kita,” katanya.

Dakwah sebagai Instrumen Sosial 

Sebagai tokoh agama sekaligus kepala lingkungan, Kamaludin mengandalkan pendekatan dakwah dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat. Ia menyampaikan, pesan-pesan kebangsaan dan tanggung jawab sosial melalui masjid, majelis taklim, dan forum keagamaan lainnya.

“Saya lewat dakwah saja. Lewat satu komando di masjid. Itu cara saya,” ungkapnya.

Pihaknya juga menerapkan pendekatan tersebut dalam menghadapi persoalan kebersihan lingkungan. Ia mengakui, meski Kota Mataram mengalami kemajuan dari sisi sumber daya manusia dan pendapatan daerah, persoalan sampah masih menjadi tantangan.

“Jangan sedikit-sedikit salahkan pemerintah. Pemerintah sudah berupaya. Tapi sisanya dari kita, kesadaran kita yang kurang,” tegasnya.

Ia mendorong warga untuk mengurangi produksi sampah sejak dari sumbernya dan lebih bijak dalam pengelolaan lingkungan. Meski saat ini warga masih membuang sampah tanpa memilah, upaya edukasi terus ia lakukan melalui ceramah dan pembinaan rutin.

Harmoni yang Dijaga Bersama 

Bagi Kamaludin, menjaga harmoni bukan hanya tugas pemimpin, tetapi tanggung jawab seluruh warga. Prinsip saling menjaga dan tidak saling menyakiti menjadi fondasi utama kehidupan sosial di Taman Seruni.

Dengan keberagaman yang ada, Taman Seruni membuktikan moderasi beragama dapat tumbuh dari lingkungan terkecil, dari kesadaran, keteladanan, dan komitmen bersama.

Di tengah berbagai tantangan sosial, Taman Seruni berdiri sebagai contoh nyata ketika Pancasila diamalkan, keberagaman bukan ancaman, melainkan kekuatan. (Zani)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button