Kota Mataram

Pemkot Mataram Usung Konsep Waterfront Economic, DAS Jangkok Disiapkan Jadi Kawasan Wisata Arung Jeram

Mataram (NTBSatu) – Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida), tengah mematangkan kajian strategis pengembangan Daerah Aliran Sungai (DAS) Jangkok.

Penataan kawasan ini tidak hanya untuk mengatasi persoalan banjir dan lingkungan, tetapi juga menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi berbasis konsep Waterfront Economic.

Kajian tersebut diproyeksikan menjadi dokumen perencanaan komprehensif yang mengintegrasikan penataan ekologi sungai dengan pengembangan ekonomi masyarakat. Khususnya, melalui sektor pariwisata air dan UMKM di sepanjang bantaran DAS Jangkok.

Kepala Brida Kota Mataram, I Nyoman Suwandiasa menyampaikan, DAS Jangkok memiliki permasalahan kompleks sekaligus potensi besar yang belum tergarap optimal.

IKLAN

Selama ini kawasan sungai kerap menghadapi banjir tahunan, luapan air laut (rob), persoalan sampah, hingga kawasan permukiman kumuh.

“Pemkot Mataram ingin penataan DAS Jangkok tidak lagi parsial. Kami menyiapkan kajian berbasis data dan kajian ilmiah agar kebijakan ke depan benar-benar berkelanjutan. Sekaligus berdampak langsung pada ekonomi warga,” ujar Nyoman, Senin, 26 Januari 2026.

Wisata Arung Jeram Jadi Andalan Baru

Salah satu poin utama dalam kajian Brida adalah pengembangan wisata air, seperti river tubing dan arung jeram, yang dinilai sangat potensial dikembangkan di DAS Jangkok. Aktivitas ini tidak sekadar sebagai destinasi wisata, tetapi sebagai pengungkit ekonomi lokal berbasis sungai.

Pengembangan wisata arung jeram akan dikolaborasikan dengan pemberdayaan UMKM, penyediaan jasa pemandu lokal, hingga penguatan ekonomi kreatif masyarakat bantaran sungai.

Konsep ini menjadi bagian dari strategi besar Waterfront Economic Frontier. Yakni menjadikan kawasan sungai sebagai ruang hidup, ruang ekonomi, dan ruang wisata yang terintegrasi.

Adopsi Penataan Sungai Nasional

Dalam penyusunan kajian, Brida Kota Mataram melibatkan berbagai tenaga ahli serta melakukan studi komparasi ke sejumlah daerah yang berhasil menata sungai. Di antaranya, Bali, Yogyakarta, dan Kota Surabaya yang sukses mengubah bantaran Sungai Brantas menjadi ruang publik dan taman kota ikonik.

Nyoman menegaskan, pengembangan DAS Jangkok tidak hanya menitikberatkan pada pembangunan fisik, tetapi juga pada perubahan fungsi dan nilai kawasan sungai bagi masyarakat.

Dalam dokumen Brida Insight, DAS Jangkok dirancang dengan konsep Green–Blue Corridor. Yakni, koridor hijau-biru yang mengintegrasikan fungsi ekologis sungai dengan aktivitas ekonomi dan pariwisata.

Kawasan DAS Jangkok terbagi ke dalam tiga zonasi pengembangan. Zona Barat terdiri dari Ampenan Tengah, Pejeruk, Kebonsari, Banjar, dan Dasan Agung Baru

Kemudian, Zona Tengah adalah Karang Baru, Monjok, Monjok Barat, dan Dasan Agung. Serta, Zona Timur meliputi Sayang-Sayang, Karang Taliwang, Cakranegara Utara, dan Selagalas

“Setiap zona dirancang memiliki fungsi spesifik, mulai dari kawasan wisata air, pusat UMKM hingga ruang terbuka hijau dan pedestrian,” ujar Nyoman.

Infrastruktur Pendukung

Sementara itu, Lurah Karang Baru, Bilyadi Idul Islam menyatakan dukungannya terhadap rencana penataan DAS Jangkok yang Pemerintah Kota Mataram usung.

Menurutnya, pengembangan kawasan sungai menjadi ruang wisata dan ekonomi baru sangat memungkinkan untuk direalisasikan. Terlebih, selama memenuhi aspek kelestarian lingkungan serta mampu memberdayakan masyarakat sekitar.

“Sepanjang dari sisi lingkungan terpenuhi dan pemberdayaan masyarakat bisa berjalan, saya rasa ini sangat memungkinkan,” ujarnya.

Ia menilai, konsep penataan yang mencakup pembangunan deck wisata dan dermaga kecil (small harbor), penataan jalur pedestrian yang aman dan terintegrasi. Kemudian, penyediaan kawasan kuliner dan kios UMKM hingga revitalisasi vegetasi tropis di sempadan sungai, serta penguatan fasilitas wisata air berkelanjutan, sejalan dengan kebutuhan warga di bantaran DAS Jangkok.

Selain itu, keberhasilan pengembangan DAS Jangkok membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah dan masyarakat setempat agar seluruh program dapat berjalan dengan baik, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi warga sekitar.

“Kunci dari penataan DAS Jangkok adalah penguatan ekonomi masyarakat. Sungai harus kembali menjadi sumber kehidupan, bukan sekadar saluran air,” tutupnya (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button