Kota Mataram

Pastikan Warga Tak Sendirian, Pemkot Mataram Siapkan Dapur Umum – Pembangunan Huntara untuk Korban Banjir

Mataram (NTBSatu) – Pesisir Kampung Bugis kini tak lagi menawarkan ketenangan bagi penghuninya, melainkan rasa lelah yang teramat dalam akibat siklus banjir rob yang terus berulang dan merenggut kedamaian mereka.

Cuaca ekstrem yang memporak-porandakan sejumlah rumah pada Rabu, 21 Januari 2026, dini hari menjadi titik nadir bagi warga yang kini memilih untuk angkat kaki dan meninggalkan kenangan pahit di pesisir Mataram tersebut karena sudah tidak sanggup lagi menghadapi terjangan ombak.

Yuliana, salah satu warga yang rumahnya hancur dihantam gelombang, mengungkapkan keputusan untuk pindah adalah jalan terakhir karena rasa takut yang sudah tidak bisa ia bendung.

“Saya sekeluarga sudah ancang-ancang pindah rumah sementara karena takut cuaca ekstrem. Karena sudah mulai khawatir, semua barang juga sudah kita pindahkan,” ungkapnya, Jumat, 23 Januari 2026.

IKLAN

Di tengah puing-puing bangunan yang tersisa, Yuliana kini terjepit dalam dilema besar; ia ingin sekali pergi menjauh dari laut, namun kondisi ekonominya sangat terbatas untuk memulai hidup baru.

“Kita cari sewa sekarang. Sudah tidak ada bangunan lagi. Kita juga malu kalau numpang sama Keluarga terlalu lama,” tambahnya.

Ana juga mengalami kesedihan serupa, ia kini hanya bisa meratapi barang-barang elektroniknya yang hancur terendam air laut. Dengan hati yang hancur, ia menceritakan bagaimana ia terpaksa menjebol tembok belakang rumahnya sendiri agar air yang mengepung tidak tertahan di dalam.

“Barang elektronik sudah rusak semua. Terpaksa kita jebol tembok belakang karena air yang masuk dan tidak bisa keluar,” tuturnya menggambarkan kepasrahan warga yang seolah kehilangan tempat berlindung.

Kisah pilu juga datang dari seorang nelayan setempat, Rustam. Di tengah lumpuhnya mata pencaharian, ia mengaku sangat terbantu dengan kehadiran pemerintah di masa darurat. Namun ia sadar bantuan makanan saja tidak cukup untuk menyambung masa depan.

“Terima kasih karena ada dapur umum, setidaknya kami tidak pusing memikirkan makan hari ini. Tapi hidup terus berjalan, perahu saya dan banyak warga di sini rusak parah. Kalau tidak ada perahu, bagaimana kami bisa mencari nafkah besok? Kami sangat berharap ada bantuan perahu juga,” keluhnya sembari menatap puing-puing sampannya yang hancur.

Memastikan Logistik Aman

Plt. Kepala Pelaksana BPBD Kota Mataram, Ahmad Muzakki, mengatakan pihaknya telah menerjunkan tim untuk melakukan pendataan cepat terhadap rumah-rumah warga yang mengalami kerusakan parah. Fokus utama saat ini adalah menjamin keselamatan dan kenyamanan warga di pengungsian.

“Begitu bencana terjadi, kami langsung tancap gas. Posko pengungsian sementara dan dapur umum sudah kami siapkan sebagai langkah tanggap darurat,” ujar Muzakki saat meninjau lokasi, Jumat, 23 Januari 2026.

Ia meminta warga untuk tetap tegar menghadapi cobaan ini dan memastikan bahwa pemerintah daerah hadir di tengah-tengah mereka.

“Kami minta warga tetap tabah. Pemerintah tidak akan tinggal diam; kami terus bekerja memastikan kebutuhan warga terpenuhi dan pendataan untuk penanganan jangka panjang segera tuntas,” tambahnya.

Senada dengan upaya BPBD, Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kota Mataram, M. Nazarudin Fikri, pada Minggu, 25 Januari 2026, mengatakan langkah rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-rekon) sudah mulai disusun.

Hal ini merupakan tindak lanjut langsung dari arahan Walikota dan Sekretaris Daerah Kota Mataram.

Dinas Perkim akan mengambil peran krusial dalam masa pasca-bencana, khususnya dalam penyediaan hunian bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.

“Instruksi Bapak Walikota dan Pak Sekda sudah jelas. Fokus pada pemulihan fisik. Kami akan segera membangun Hunian Sementara (Huntara) di wilayah Bintaro bagi warga terdampak,” tukas Nazarudin. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button