Kota Mataram

Ayam Taliwang dan Sate Rembiga: Senjata Gastronomi dalam Pusaran City Branding Kota Mataram

Mataram (NTBSatu) – Bukan pantai atau perbukitan, Kota Mataram justru memilih aroma rempah Ayam Taliwang dan kelezatan Sate Rembiga sebagai senjata utama untuk menggaet wisatawan.

Strategi city branding berbasis gastronomi ini terbukti ampuh menjadikan Mataram sebagai daerah tujuan utama yang menyerap hampir seperempat total perjalanan wisatawan di seluruh Nusa Tenggara Barat (NTB).

Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) NTB tahun 2025 mencatat, jumlah wisatawan domestik ke NTB melonjak hingga 1,2 juta orang. Naik 2,41 persen dari tahun sebelumnya.

Di tengah tren positif tersebut, Kota Mataram berdiri kokoh di posisi puncak sebagai destinasi favorit dengan total kunjungan mencapai 282.759 orang.

IKLAN

Secara statistik, Mataram turut sukses mengamankan 22,70 persen dari total perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) untuk berkunjung ke Kota ini.

Kepala Diskominfo Kota Mataram, H. Muhammad Ramadhani, memandang angka-angka tersebut sebagai peluang besar untuk mempertegas identitas kota.

Menurutnya, di tengah persaingan destinasi yang semakin ketat, Mataram tidak boleh terjebak dalam narasi wisata alam yang sudah jenuh.

Positioning Mataram harus tajam. Senjata terkuat kita dalam ekosistem pariwisata Lombok adalah wisata kuliner,” kata Ramadhani, Minggu, 25 Januari 2026.

Lewat kolaborasi strategis dengan Dinas Pariwisata dan Dinas Perinkop UKM, pihaknya secara konsisten mendorong Ayam Taliwang dan Sate Rembiga sebagai produk pembeda, yang sulit orang-orang temukan di belahan daerah lain.

Strategi ini bertujuan menciptakan memori kolektif bagi wisatawan bahwasanya kunjungan ke Lombok belum paripurna sebelum mencicipi bumbu khas Ibu Kota.

Revolusi Kemasan: Taliwang dalam Kaleng

Geliat city branding ini pun disambut dengan napas inovasi oleh para pelaku usaha lokal.

Hj. Nurhidayati Ghaffar Moerad, atau yang akrab disapa Ida Ghaffar, pemilik Ayam Taliwang Beca Bero, adalah salah satu motor penggeraknya. Ia melakukan lompatan besar dengan memelopori pengemasan Ayam Taliwang dalam bentuk kaleng dan kotak.

Inovasi ini mengubah cara wisatawan menikmati kuliner legendaris. Jika dulu wisatawan hanya bisa menikmati Ayam Taliwang di meja restoran, kini hidangan tersebut memiliki daya tahan berbulan-bulan dan siap terbang ke berbagai penjuru dunia sebagai buah tangan.

Efeknya sangat terasa saat gelaran internasional seperti MotoGP 2025.

“Produksi kami melonjak tajam hingga 500-an kaleng per hari. Banyak wisatawan mancanegara yang akhirnya menjadikan Ayam Taliwang kaleng ini sebagai oleh-oleh favorit karena praktis,” ungkap Ida.

Dengan harga yang kompetitif, Rp80 ribu per unit, produk ini tidak hanya menjual rasa, tetapi juga kemudahan.

Dampaknya bersifat domino; mulai dari peningkatan omzet restoran hingga geliat kesejahteraan para karyawan yang ikut merasakan manisnya “panen” wisatawan. Mataram kini bukan lagi sekadar titik singgah, melainkan destinasi rasa yang menetap lama di ingatan para pengunjungnya. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button