Nelayan di Ampenan Terdampak Banjir Rob, Puluhan Perahu Rusak dan Aktivitas Melaut Terganggu
Mataram (NTBSatu) – Gelombang tinggi yang memicu banjir rob di pesisir Ampenan, Kota Mataram, berdampak signifikan terhadap nelayan.
Selain merendam permukiman, bencana ini merusak puluhan perahu dan menghentikan aktivitas melaut nelayan. Data Pemerintah Kota Mataram mencatat sekitar 300 Kepala Keluarga (KK) terdampak, termasuk nelayan.
Camat Ampenan, Muzakkir Walad mengatakan, nelayan menjadi kelompok yang paling terdampak, terutama mereka yang bergantung menyandarkan perahu di bibir pantai Ampenan.
“Kerusakan terbanyak terjadi pada bagian katir perahu. Nelayan terpaksa melepaskannya agar perahu tidak terbawa arus atau mengalami kerusakan lebih parah,” ujar Muzakkir kepada NTBSatu, Kamis, 23 Januari 2026.
Ia melanjutkan, sebagian perahu telah dievakuasi ke kawasan Bintaro Jaya dan koridor jalan sekitar. Selain itu, sebagian perahu yang terlanjur rusak akibat hempasan gelombang.
Lebih lanjut, selain sarana melaut, 18 rumah warga rusak berat, sementara 48 KK lainnya terdampak langsung genangan air laut.
Merespon kondisi ini, Pemkot Mataram bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Sosial bergerak cepat melakukan penanganan darurat.
Menegaskan hal itu, Muzakkir menyebutkan, langkah awal meliputi pembukaan dapur umum, posko induk. Serta, penyiapan tiga lokasi pengungsian jika kondisi memburuk.
“Kami juga memasang karung pasir di sepanjang sempadan pantai untuk melindungi rumah warga dan perahu dari terjangan gelombang susulan,” tambahnya.
Dua langkah lainnya yang juga sudah pihaknya koordinasikan dengan Pemkot Mataram. Di antaranya untuk jangka pendek, pemerintah memasang geobag (karung pasir khusus) yang lebih berat agar stabil.
Sementara untuk jangka panjang, adanya penganggaran pembangunan pemecah ombak sejauh 30 meter dari bibir pantai yang rencana pembangunannya 2027 nanti.
“Upaya sementara ini diharapkan memberikan perlindungan awal dan selanjutnya permanen bagi kawasan pesisir dan menjaga mata pencaharian nelayan Ampenan,” tutupnya. (*)



