Kajian Museum Tematik NTB Rampung, Tinggal Tunggu Tahap Pembangunan
Mataram (NTBSatu) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB memastikan, kajian pembangunan Museum Tematik NTB telah rampung. Saat ini, pengembangan museum tersebut tinggal menunggu arahan lanjutan dan kesiapan anggaran untuk masuk ke tahap pembangunan fisik.
Kepala Museum Negeri NTB, Dr. Ahmad Nuralam, S.H., M.Hum., menjelaskan, pihaknya telah menyiapkan seluruh dokumen perencanaan dasar tahun lalu. Mulai dari naskah akademik hingga Detail Engineering Design (DED).
Museum tematik ini bakal menjadi destinasi unggulan yang mendukung arah kemajuan pariwisata dan pendidikan berbasis budaya. Bahkan, sejarah yang tidak kalah penting di wajah internasional dengan daerah lain.
“Secara teknis kajiannya sudah lengkap. Kalau anggaran memungkinkan, pembangunan bisa langsung dilaksanakan. Setelah itu baru masuk tahap pengisian konten dan koleksi,” ujarnya kepada NTBSatu, Senin, 19 Januari 2026.
Museum tematik tersebut akan menampilkan narasi besar sejarah dan kebudayaan NTB, melalui koleksi buku perpustakaan khusus. Kemudian, pusat pengkajian budaya dan sejarah yang lebih naratif dan ilmiah.
Selain itu, melalui gedung pusat pelayanan baru ini juga akan mengangkat peran NTB dalam sejarah dunia. Salah satunya, jejak Alfred Russel Wallace yang pernah tinggal di Ampenan dan merumuskan garis Wallace yang melintasi wilayah NTB.
“Memuat catatan ilmiah peristiwa-peristiwa di NTB yang berdampak pada sejarah dunia, seperti letusan Gunung Samalas dan Tambora,” tuturnya.
Strategi NTB Destinasi Wisata Sejarah Internasional
Menurutnya, museum tematik menjadi bagian penting dari strategi mewujudkan NTB sebagai destinasi wisata sejarah berkelas internasional. Museum tidak hanya berfungsi sebagai ruang pamer, tetapi juga sebagai pusat informasi, riset, dan edukasi kebudayaan yang terintegrasi.
“Kita kan masih sangat kurang jurnal dan literatur yang menjangkau internasional. Sehingga sangat jarang peneliti yang ingin meneliti dan membawa narasi sejarah NTB ke dunia, dibandingkan Pulau Jawa dan lainnya,” lanjutnya.
Saat ini, jumlah museum di NTB masih tergolong terbatas, yakni lima museum yang tersebar di Pulau Lombok dan Sumbawa. Kondisi ini menjadi salah satu alasan kuat perlunya pengembangan museum tematik sebagai simpul wisata sejarah dan budaya.
“Museum tematik kami siapkan sebagai fondasi jangka panjang. Targetnya, dalam lima tahun ke depan gedung baru museum ini sudah berdiri dan beroperasi,” katanya.
Dalam penyusunan kajian, Museum NTB melibatkan akademisi, sejarawan, dan budayawan dari berbagai perguruan tinggi untuk memastikan validitas data dan informasi yang akan pihaknya sajikan kepada publik.
“Museum tematik diharapkan mampu menjadi etalase kebudayaan NTB sekaligus memperkuat posisi daerah di tingkat nasional maupun internasional, karena peran vital museum sebagai wahana menghimpun sejarah dan budaya NTB,” tambahnya. (Alwi)



