Kades Jerowaru Klaim Pengelolaan Bale Mangrove Sudah Temukan Titik Temu
Lombok Timur (NTBSatu) – Kepala Desa (Kades) Jerowaru, Lombok Timur, Muhammad Nasruddin mengklaim polemik pengelolaan wisata Bale Mangrove, telah menemukan titik temu setelah serangkaian proses mediasi.
Ia mengatakan, situasi kini kondusif dan aktivitas wisata Bale Mangrove kembali berjalan normal sejak Rabu pekan lalu.
“Setelah beberapa kali mediasi dengan melibatkan tokoh masyarakat, tokoh pemuda, pengelola, pemerintah kabupaten, kecamatan, dan desa. Suasana saat ini sudah mulai kondusif. Bale Mangrove juga sudah aktif dibuka,” ujar Nasruddin, Senin, 19 Januari 2026.
Ia menjelaskan, hasil mediasi menyepakati model kepengurusan baru yang menggabungkan unsur pengelola lama dan pengelola baru.
Kesepakatan skema ini melalui rapat tim kecil yang melibatkan berbagai unsur pemerintahan dan keamanan. Termasuk, Dinas Pariwisata hingga pengelola Bale Mangrove, tokoh pemuda Poton Bako dan BPD Poton Bako.
“Untuk kepengurusan Bale Mangrove, disepakati sistem mixed antara pengelola lama dan pengelola baru sesuai keputusan rapat tim kecil,” tambahnya.
Konflik Pengelolaan Wisata Bale Mangrove
Sebelumnya, pengelolaan wisata Bale Mangrove menuai kritik publik setelah Pemerintah Desa dan Kecamatan Jerowaru melakukan pergantian total pengurus secara mendadak.
Pengelola menilai, kebijakan tersebut mengabaikan prinsip pengelolaan berbasis komunitas. Serta, berpotensi mematikan kreativitas pemuda yang selama ini menjadi motor penggerak destinasi wisata tersebut.
Pegiat pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) berbasis komunitas, Lalu Yazid Sururi menyebut, pergantian pengurus tanpa evaluasi terbuka sebagai kemunduran praktik demokrasi di tingkat lokal.
Ia menilai pemerintah desa dan kecamatan mengambil langkah tergesa-gesa hanya karena tekanan protes sebagian warga, tanpa melalui audit kinerja yang transparan.
“Mengganti total pengurus lama tanpa proses evaluasi komprehensif bukan langkah demokratis. Ini justru merusak pondasi kolektif yang dibangun bertahun-tahun,” kata Yazid.
Yazid mengungkapkan, pengelola Bale Mangrove sebelumnya berhasil membawa destinasi tersebut dapat terkenal secara nasional.
Pengurus lama bahkan mampu menggandeng pendanaan Corporate Social Responsibility (CSR) dari PLN. Serta, memperoleh dukungan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Menurutnya, manfaat ekonomi dari pengelolaan Bale Mangrove juga masyarakat rasakan langsung. Pengelola rutin menyumbang ke kas dusun, membantu pendanaan rumah ibadah, serta mendorong peningkatan kapasitas pemuda melalui berbagai pelatihan teknis. (*)



