Pemerintahan

Dari Industri ke Rak Buku, Sikap Tenang Hj. Nuryanti Menjalani Demosi sebagai Pejabat Pemprov NTB

Pagi-pagi di Perpustakaan Daerah Nusa Tenggara Barat, Hj. Nuryanti tampak sibuk mengikuti rapat bersama para pustakawan. Baru empat hari menempati ruang kerja barunya sebagai Kepala Bidang Deposit, Pengadaan, Pengelolaan, dan Pelayanan Perpustakaan NTB, ia tengah menyesuaikan diri dengan ritme kerja yang berbeda dari dinas sebelumnya. Bagaimana suasana kebatinan pejabat kelahiran Bima ini?

———————

Perpindahan itu bukan promosi. Sebelumnya, Hj. Nuryanti, SE., ME., sebagai Kepala Dinas Perindustrian NTB. Kini, ia menjalani demosi, sebuah keputusan pimpinan yang ia terima dengan tenang.

“Saya baik-baik kok, (demosi) itu haknya pimpinan,” ujarnya singkat saat ditemui NTBSatu, Rabu, 14 Januari 2026, menanggapi situasi pasca-demosi.

IKLAN

Bagi Nuryanti, demosi bukan akhir, melainkan konsekuensi dari amanah jabatan yang harus dijalani dengan lapang dada. Ia memilih melihatnya sebagai ruang evaluasi diri.

“Konsekuensi sih ya, sebuah amanah. Penilaiannya mungkin dianggap kurang baik, kita terima, kita perbaiki. Tidak apa-apa,” katanya.

Ia mengakui setiap penugasan selalu menyisakan ruang perbaikan. Entah dari pola kerja, ritme, atau hal-hal yang belum sepenuhnya selaras dengan ekspektasi pimpinan.

“Mungkin saya merasa sudah baik, tapi ada pekerjaan yang kurang atau pola kerja yang dianggap belum pas. Kita perbaiki. Ini ajang introspeksi diri,” ujarnya.

Demosi tersebut datang tanpa isyarat sebelumnya. Tidak ada pemberitahuan atau sinyal akan adanya perpindahan jabatan. Ia baru mengetahui perubahan posisinya saat menerima informasi pelantikan.

“Tidak ada sih, tidak boleh juga. Itu kan hak pimpinan,” ucapnya, menegaskan tidak ada pihak yang mengabari jauh-jauh hari sebelum keputusan resmi keluar.

Memasuki lingkungan kerja baru, Nuryanti mengaku masih dalam tahap adaptasi. Hari-harinya diisi dengan rapat, diskusi, dan belajar memahami dinamika perpustakaan daerah.

“Ini baru hari keempat kerja. Saya masih rapat-rapat dengan teman-teman. Saya perlu belajar, memahami tugas saya apa, kendalanya apa,” tuturnya.

Meski berpindah dari dunia industri ke dunia literasi, ia memastikan tidak ada pekerjaan yang tertinggal di dinas sebelumnya. Seluruh program, menurutnya, telah dituntaskan sebelum pergantian jabatan.

“Tidak ada yang belum selesai, semua tuntas,” katanya.

Harapan ke Kadis Baru 

Kepada pimpinan baru di Dinas Perindustrian NTB, Nuryanti menyampaikan harapan sederhana: agar arah kerja dan cita-cita yang telah dibangun tetap dijaga dan dilanjutkan.

“Semoga tetap menjaga arah kerja sebagaimana moto dan cita-cita yang sudah dibangun sebelumnya,” ujarnya.

Pengalaman berpindah dinas bukan hal baru baginya. Sebelumnya, ia pernah bertugas di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB (sekarang Dikpora), lalu Dinas Perindustrian, hingga kini di Perpustakaan Daerah NTB. Perpindahan itu membentuk keyakinannya untuk selalu siap ditempatkan di mana pun.

“Apapun itu, hak pimpinan. Kita siap ditugaskan di mana saja. Saya terbiasa bekerja dengan baik di mana pun ditugaskan,” katanya.

Ia optimistis, meskipun bidang tugas berbeda, secara administratif dan tata kelola pemerintahan, pekerjaannya tidak jauh berbeda dari jabatan sebelumnya. Pengalaman birokrasi yang ia miliki menjadi modal utama untuk beradaptasi.

Di antara rak buku dan meja administrasi, Hj. Nuryanti memilih melangkah pelan namun pasti. Bagi dirinya, jabatan boleh berubah, tetapi etos kerja dan loyalitas pada tugas negara tetap sama. (*) 

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button