Sejarah Panjang Malam Takbiran di Indonesia, dari Tabuhan Bedug sampai Jadi Pesta Rakyat
Mataram (NTBSatu) – Siapa yang tidak merasa terharu sekaligus merinding saat mendengar suara takbir berkumandang di malam terakhir bulan Ramadan. Di Indonesia, malam takbiran bukan hanya dikenal sebagai tanda besok akan lebaran, tetapi sudah menjadi tradisi sebagai pesta rakyat yang sangat ikonik.
Mulai dari desa terpencil hingga kota besar, semua orang akan terlihat tumpah ruah di jalan atau sekadar berkumpul di masjid. Di samping keramaian tersebut, rupanya ada sejarah panjang yang melibatkan budaya lokal, alat musik tradisional. Bahkan, memicu semangat persatuan bangsa yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu.
Awal Mula Takbiran dan Rahasia di Balik Suara Bedug
Berdasarkan keagamaan, takbiran merupakan cara untuk bersyukur kepada Allah Swt., karena sudah berhasil melewati ujian puasa selama sebulan penuh
Nah, uniknya di Indonesia dibarengi dengan bedug. Penggunaan ini berawal saat para Wali Songo memanfaatkan penggabungan budaya dan ajaran agama untuk menyebarkan agama Islam.
Karena dulu belum ada pengeras suara, apalagi WhatsApp, maka dibuatlah alat pengumuman raksasa berupa bedug. Biasanya, suaranya digunakan sebagai tanda berakhirnya bulan Ramadan dan datangnya Hari Raya Idulfitri.
Tradisi ini yang membuat takbiran di Indonesia terasa sangat ikonik, lantaran adanya perpaduan antara doa yang sakral dan irama musik yang mengandung semangat.
Jadi Simbol Perlawanan di Zaman Penjajahan
Mungkin saat ini, masih banyak yang belum tahu kalau dulu malam takbiran sempat membuat penjajah Belanda merasa terancam. Kenapa? Karena di malam itu, rakyat pribumi berkumpul dalam jumlah banyak.
Bagi para pejuang, malam takbiran merupakan momen untuk menunjukkan identitas dan kekompakan umat muslim yang tidak mau tunduk pada penjajahan.
Meski sempat ada aturan untuk membatasi kerumunan di malam hari, rakyat justru modal nekat melakukan takbiran pakai obor bambu dan berkeliling kampung.
Artinya, malam takbiran bukan hanya tentang ibadah. Namun, menjadi salah satu cara orang tua zaman dulu menjaga semangat persatuan dan keberanian di tengah masa penjajahan.
Evolusi Takbir Keliling dari Obor ke Kendaraan Hias
Setelah kemerdekaan, tradisi takbiran justru lebih berwarna dan semakin meriah. Jika dulu orang-orang hanya bisa jalan kaki sambil membawa obor, sekarang bisa melihat mobil hias dengan bentuk macam-macam, seperti miniatur masjid.
Yang lebih menarik lagi, setiap daerah di Indonesia, biasanya memiliki kebiasaan unik sendiri. Misalnya di Lombok Tengah, menggelar pawai lampion yang cantik.
Perubahan ini menjadi bukti jika malam takbiran merupakan milik semua orang dan menjadi momen silaturahmi paling besar, sebelum momen bermaaf-maafan di pagi hari.
Nah, dari rangkuman sejarah itu, membuktikan jika malam takbiran menjadi bukti hebatnya perayaan kemenangan. Bukan sekadar suara besar atau lampu cantik, tetapi lebih kepada menjaga warisan leluhur.
Di zaman yang semakin modern, esensi malam takbiran justru tidak berubah. Yaitu, mempererat kasih sayang antar sesama di balik momen rendah hati di hadapan Sang Pencipta. (Inda)



