Sumbawa

Jelang Nataru, Bupati Jarot Instruksikan Kunci Stok Pangan dan Putus Siklus Latah Petani

Sumbawa Besar (NTBSatu) – Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot memimpin Rapat Koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Lantai I Kantor Bupati Sumbawa, pada Jumat, 12 Desember 2025.

Dalam arahannya, Bupati Jarot menginstruksikan pengamanan stabilitas harga pasar menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), yakni Natal dan Tahun Baru (Nataru), serta menyambut bulan Ramadan mendatang.

IKLAN

​Bupati Jarot meminta seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis dan Perum Bulog, untuk bergerak cepat memutus mata rantai inflasi dan mengunci ketersediaan bahan pokok strategis.

IKLAN

​“Pastikan stok beras, gula, dan minyak goreng aman di gudang hingga pengecer. Jangan sampai terjadi kelangkaan menjelang hari besar hanya karena rantai pasok telat,” tegasnya.

IKLAN

​Bupati Jarot tidak hanya fokus pada stok pabrikan. Ia juga menyoroti, perilaku petani lokal yang dinilai latah sebagai pemicu utama inflasi komoditas sayur-mayur.

​Menurutnya, petani Sumbawa cenderung menanam komoditas seperti cabai hanya saat harga sedang tinggi. Pola pikir ini justru menciptakan siklus inflasi daerah.

​“Saat harga anjlok karena panen raya, petani malas menanam lagi. Akibatnya, tiga bulan kemudian stok kosong, harga melonjak. Siklus ini terjadi berulang-ulang, harus kita hentikan,” ungkapnya.

​Bupati Jarot juga memaparkan data yang menurutnya cukup memprihatinkan mengenai ketahanan pangan daerah. Ia mengungkap fakta, 80 hingga 90 persen kebutuhan bahan pangan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sumbawa saat ini masih mendatangkan pasokan dari luar, terutama Lombok.

​Kondisi ini membuat harga pasar di Sumbawa sangat rentan terhadap gangguan distribusi eksternal. Bupati Jarot lantas memerintahkan dinas pertanian untuk segera mengambil langkah taktis.

​Ia mendorong pemanfaatan lahan dataran tinggi, seperti kawasan Batu Lanteh dan Batu Dulang, sebagai sentra produksi sayur-mayur (kol, wortel, kentang) yang berproduksi sepanjang tahun, bukan lagi mengandalkan sawah tadah hujan.

​“Kita punya lahan luas dan air berlimpah di gunung, tapi tidak ada yang menanam sayur. Dinas pertanian harus garap ini, ini potensi besar untuk swasembada pangan kita,” tambahnya. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button