BERITA LOKALPariwisata

Pelaku Wisata: Ada Simbiosis Prostitusi Pelajar dengan Perkembangan Pariwisata Lombok

Mataram (NTBSatu) – Pelaku Pariwisata NTB, Furkan Hermansyah alias Rudy Lombok menyoroti praktik prostitusi remaja yang melibatkan pelajar SMP dan SMA di Pulau Lombok yang semakin meresahkan.

Menurutnya, perubahan dan kemajuan teknologi digital menjadi tantangan besar dalam pencegahan praktik prostitusi di kalangan pelajar.

Lebih khusus, Rudy mengungkapkan, sangat sulit mencegah kegiatan prostitusi, terutama di dunia pariwisata. Karena, bisnis pariwisata erat kaitannya dengan dunia privat yang tidak sembarangan orang bisa ikut campur.

“Kita tidak bisa melakukan tindakan langsung karena ini sudah masuk ke ranah privat. Kalau sudah urusan bisnis agen ke agen, itu sangat sulit intervensinya. Bukan wilayah publik lagi,” ujar Ketua Sahabat Pariwisata Nasional ini kepada NTBSatu, Kamis, 24 Juli 2025.

Modus Prostitusi Berevolusi

Menurut Rudy, modus prostitusi kini mengalami perubahan signifikan seiring berkembangnya teknologi. Jika dulu praktik tersebut dilakukan secara konvensional, saat ini banyak pelaku memanfaatkan aplikasi berbasis android.

IKLAN

“Biasanya mereka titip nomor deteksi satpam atau pihak tertentu. Tapi sekarang sudah beda. Tidak ada mucikari secara fisik, semua pakai teknologi. Ini membuat upaya pemberantasan makin sulit karena tidak ada pakemnya,” jelasnya.

Ia juga menyoroti pola aktivitas pelajar yang kerap berada di luar rumah pada malam hari sebagai pemicu utama keterlibatan dalam jaringan prostitusi.

“Saya menemukan bahwa salah satu penyebab utamanya adalah kegiatan ekstrakurikuler di luar jam sekolah, terutama yang berlangsung malam hari hingga dini hari. Ini sangat rawan. Kalau kegiatan malam dibatasi dan orang tua diberi informasi, saya yakin bisa lebih aman,” ujarnya.

Indikasi Pola Turun Temurun di Lingkungan Pendidikan

Rudy bahkan menyebut adanya pola turun-temurun di beberapa sekolah yang membuat praktik ini seakan menjadi kebiasaan.

IKLAN

Ia mencontohkan salah satu sekolah yang menurutnya memiliki indikasi kuat keterlibatan pelajarnya dalam praktik prostitusi.

“Contohnya ada di salah satu sekolah dan juga salah satu kampus di Kota Mataram. Saya tahu betul, dosen-dosennya bagaimana. Mereka (pelaku prostitusi, red) nyaman karena modusnya selalu baru dan sulit dilacak,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Rudy juga menyinggung pengalamannya terkait praktik penyimpangan seksual yang melibatkan komunitas LGBT. Ia mengaku pernah mengalami kejadian mengejutkan saat menangani tamu wisata.

“Sekitar tahun 1994 saya pernah booking 24 kamar untuk tamu dari luar daerah. Ternyata, yang mereka datangkan adalah laki-laki semua. Saya pikir perempuan, ternyata laki-laki. Falsafah mereka jelas, tidak boleh miskin, harus kaya,” ucapnya.

Peran Sekolah dan Orang Tua

Karena itu, ia menilai bahwa persoalan prostitusi remaja dan penyimpangan sosial bukan hanya tanggung jawab aparat, melainkan perlu keterlibatan aktif semua pihak, termasuk sekolah dan keluarga.

“Contohnya SMA 5 Mataram sudah mulai menerapkan sistem absensi yang bagus. Jadi anak yang bolos bisa langsung terdeteksi. Ini sangat membantu mengurangi pergaulan bebas,” katanya.

Rudy kembali menegaskan bahwa dunia pariwisata sulit disentuh oleh regulasi langsung terkait kasus-kasus ini karena berkaitan dengan privasi dan hubungan personal.

“Kalau bicara dari segi pariwisata, sulit sekali. Kita tidak bisa menyentuh itu karena tidak ketemu ranahnya. Satu-satunya jalan adalah pencegahan lewat jalur pendidikan dan keluarga,” pungkasnya. (*)

Alan Ananami

Jurnalis NTBSatu

Berita Terkait

Back to top button