Dari Desa Termiskin ke 5 Besar Local Hero, Sri Trisnadewi Bangun Lantan Lewat Ekowisata dan Pemberdayaan Perempuan
Lombok Tengah (NTBSatu) – Sri Trisnadewi berhasil mengharumkan nama Nusa Tenggara Barat setelah masuk lima besar Local Hero in Tourism 2026.
Ketua Pokdarwis Desa Wisata Lantan itu meraih pencapaian tersebut berkat perjuangannya membangun ekowisata berbasis masyarakat bersama saudara kembar dan warga Desa Lantan sejak 2017.
Ia mengaku tidak pernah membayangkan desanya akan mendapat pengakuan di tingkat nasional. Sebab, saat mereka mulai bergerak, Lantan masih masuk kategori desa termiskin di Lombok Tengah.
Berangkat dari Keresahan Desa
Sri mengatakan kondisi desa saat itu mendorongnya untuk bergerak. Selain kemiskinan, angka pernikahan dini juga cukup tinggi. Ia juga melihat perempuan sering hanya mendapat peran di sektor domestik.
“Kami percaya perempuan bisa mengambil peran yang lebih besar. Karena itu kami membentuk komunitas untuk memberikan edukasi kepada anak-anak dan membuka ruang pemberdayaan perempuan,” kata Sri Trisnadewi kepada NTBSatu, Jumat 10 Juli 2026.
Bersama saudara kembar tiganya, Sri mendirikan Lentera Teras Foundation. Komunitas itu menggelar berbagai kegiatan pendidikan di luar sekolah sekaligus mengenalkan kepedulian terhadap lingkungan.
Kemudian, sebuah NGO asal Jepang datang ke Lantan pada 2017. Meski belum memiliki pengalaman mengelola wisata, mereka menerima tantangan itu. Sejak saat itu, mereka mulai belajar mengembangkan ekowisata berbasis masyarakat.
Bangun Wisata dari Kehidupan Warga
Sri menegaskan, konsep wisata yang mereka pilih tidak mengubah identitas desa. Sebaliknya, mereka justru mengangkat kehidupan sehari-hari masyarakat sebagai daya tarik utama.
“Pariwisata tidak harus mewah. Aktivitas masyarakat, budaya, dan kehidupan sehari-hari justru menjadi pengalaman yang dicari wisatawan,” ujarnya.
Namun, pandemi Covid-19 sempat menghentikan aktivitas wisata. Setelah menyelesaikan studi magister di luar negeri, Sri kembali ke Lantan pada 2021. Ia lalu menata ulang Pokdarwis bersama pemerintah desa dan Dinas Pariwisata Lombok Tengah.
Selanjutnya, tim menyusun paket wisata melalui diskusi dengan masyarakat. Mereka juga meminta masukan dari akademisi, pelaku industri, dan berbagai mitra. Bahkan, beberapa paket melewati tahap uji coba sebelum resmi dipasarkan.
Pilih “Quality Tourism”
Sri mengaku lebih memilih konsep quality tourism daripada mengejar jumlah wisatawan. Menurutnya, wisata berkualitas memberi manfaat yang lebih besar bagi masyarakat desa.
“Lebih baik tamu datang dengan kualitas layanan yang baik daripada ramai setiap hari tetapi manfaatnya tidak maksimal,” katanya.
Selain itu, Pokdarwis Lantan juga menerapkan pembagian tugas berdasarkan kemampuan, bukan gender. Mereka bahkan membuka program volunteer untuk menyiapkan regenerasi anggota.
Kini, keberhasilan masuk lima besar Local Hero in Tourism 2026 menjadi kebanggaan bagi masyarakat Lantan. Meski demikian, Sri menegaskan penghargaan itu bukan hasil kerja satu orang.
“Ini bukan tentang saya. Ini hasil kerja keras teman-teman yang sejak awal percaya membangun Desa Lantan bersama,” tutupnya. (*)




