LingkunganSumbawa Barat

Puncak Kemarau Ancam Target Produksi Benih Padi Mandiri Sumbawa Barat

Sumbawa Barat (NTBSatu) – Delapan ribu hektar lebih lahan sawah baku di Kabupaten Sumbawa Barat kini menghadapi ancaman kekeringan akibat puncak musim kemarau.

Akibatnya, krisis air tersebut membayangi ambisi pemerintah daerah dalam mengejar target 198 ton produksi benih padi mandiri akhir tahun nanti.

Kepala Dinas Pertanian Sumbawa Barat, Jamilatun, S.Pt., M.M.Inov., menjelaskan langkah strategis jajarannya dalam mengejar target mandiri benih. Salah satunya dengan memusatkan proyek penangkaran pada kawasan yang memiliki cadangan air melimpah saat kemarau.

IKLAN

“Kenapa kita prioritaskan di Kecamatan Brang Ene dan Brang Rea, karena ketersediaan sumber air di situ sangat banyak,” ujar Jamilatun kepada NTBSatu, Kamis, 9 Juli 2026. 

Oleh karena itu, Dinas Pertanian sengaja memusatkan lokasi proyek pada wilayah Brang Ene dan Brang Rea demi menjamin pasokan air. Tim verifikasi lapangan menerapkan standar penilaian yang sangat ketat sebelum meloloskan areal penangkaran petani.

Kelayakan sumber air menjadi indikator utama guna menghindari risiko gagal panen akibat kekeringan. Para petani plasma memulai fase penanaman menggunakan varietas benih dasar jenis label putih sekarang.

IKLAN

Pengawasan intensif terus berjalan agar tanaman padi berkembang optimal selama masa pertumbuhan. Nantinya proses pemeliharaan vegetatif ini akan menghasilkan benih padi sebar label ungu pada akhir tahun nanti.

Anggaran dan Target Produksi

Setelah panen, kelompok tani lokal akan menggunakan benih label ungu tersebut untuk musim tanam berikutnya. Disisi lain, Pemerintah daerah juga menyalurkan sejumlah bantuan modal untuk menyukseskan program penangkaran ini.

“Ada tiga item yang kita support ke petani plasmanya, benih label putih, biaya roguing, biaya persemeian,” tambah Jamilatun.

Intervensi anggaran tersebut berguna meringankan beban biaya operasional para petani daerah. Pekerja lapangan juga mengintensifkan metode roguing atau pemurnian varietas padi secara berkala pada hamparan sawah.

Langkah manual ini berfungsi menyingkirkan tanaman pengganggu demi menjaga keaslian mutu benih. Secara akumulatif, program mandiri benih daerah ini membidik total target produksi sebesar 198 ton.

“Target produksi ini mencakup lima puluh sembilan persen dari potensi tanam,” pungkasnya. 

Pemerintah daerah belum mampu mencukupi sisa empat puluh satu persen kebutuhan riil lapangan. Keberhasilan program akhir tahun tersebut akan menentukan tingkat kemandirian sektor pertanian Sumbawa Barat. (*) 

Artikel Terkait