Nilai TKA SMA NTB 2025 Rendah, Pengamat Minta Dikpora Evaluasi Kualitas Pembelajaran
Mataram (NTBSatu) – Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) siswa SMA di Nusa Tenggara Barat (NTB) 2025, masih tergolong rendah. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), rata-rata nilai TKA NTB berada di angka 36,80. Masih di bawah rata-rata nasional sebesar 46,70.
Merespons hal tersebut, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) NTB mulai melakukan evaluasi melalui rapat koordinasi dengan sekolah. Kepala Bidang Pembinaan SMA, Mohamad Tohajudin mengatakan, langkah ini untuk mendorong peningkatan nilai siswa.
“Kemarin kita sudah beberapa kali melakukan rapat koordinasi. Kita panggil untuk melakukan evaluasi dan mendorong sekolah serta kepala sekolah, agar meningkatkan kerja sama,” ujarnya kepada NTBSatu, Senin, 27 April 2026.
Selain itu, pihaknya juga mencatat sejumlah kendala dalam pelaksanaan TKA, terutama pada sarana prasarana dan koneksi internet. “Rata-rata kendalanya sama, yaitu sarana prasarana dan koneksi internet. Ini yang perlu kita evaluasi ke depan,” jelasnya.
Menanggapi pernyataan tersebut, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat) Muhammad Nizar menilai, langkah evaluasi tersebut perlu pemerintah perluas. Tidak hanya berhenti pada koordinasi.
“Betul, perlu penguatan koordinasi, dinas harus mengetahui kondisi aktual terlebih dahulu, lalu dieliminasi faktor-faktor penghambatnya. Kalau sarana tidak memungkinkan, jangan dipaksakan,” ujarnya kepada NTBSatu, Rabu, 29 April 2026.
Menurutnya, kendala sarana dan internet belum tentu menjadi faktor utama tanpa evaluasi menyeluruh. “Harus mencakup sarana, kualitas pembelajaran, dan kesiapan siswa. Baru kita bisa dapatkan faktor utamanya.” jelasnya.
Benahi Proses Belajar di Kelas
Sejalan dengan dorongan dinas agar siswa lebih banyak berlatih soal, Nizar menekankan pentingnya pembenahan proses belajar di kelas. Ia menilai rendahnya capaian, terutama pada Matematika dan Bahasa Inggris, tidak lepas dari metode pembelajaran yang belum optimal.
“Soal TKA itu banyak menguji nalar logis, seperti soal cerita. Tetapi dalam proses belajar, siswa masih minim mendapatkan pembelajaran kontekstual seperti itu,” katanya.
Karena itu, ia mendorong adanya intervensi yang lebih spesifik, terutama dalam penguatan kompetensi guru. “Perlu penguatan melalui MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) atau KKG (Kelompok Kerja Guru), sebagai wadah peningkatan kompetensi guru. Baik dalam metode belajar maupun keterampilan mengajar,” tambahnya.
Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga NTB sendiri memastikan, pelaksanaan TKA berjalan lancar tanpa kebocoran soal. Serta, optimistis nilai akan meningkat ke depan.
Namun, tanpa perbaikan pada proses pembelajaran, Nizar menilai, peningkatan tersebut tidak akan signifikan. “Kalau kualitas pembelajaran tidak diperbaiki, peningkatannya tidak akan terlalu besar,” tutupnya. (Caca)



