SMAN 1 Gunungsari Gandeng BLK NTB dan Victoria Group untuk Program Double Track
Mataram (NTBSatu) – Kepala SMAN 1 Gunungsari, Musyrifin menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Balai Latihan Kerja (BLK) NTB dan pihak swasta, Victoria Group untuk mengembangkan program pelatihan keterampilan bagi siswa.
Penandatanganan MoU tersebut berlangsung di lingkungan sekolah dengan melibatkan seluruh orang tua siswa, sebagai bentuk komitmen bersama dalam mendukung pendidikan berbasis keterampilan.
Musyrifin menjelaskan, kerja sama ini merupakan bagian dari pelaksanaan program Double Track yang menyasar siswa kelas XII, khususnya yang tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
“Program ini menggabungkan pembelajaran di sekolah dengan pembekalan keterampilan hidup bagi siswa,” ujarnya kepada NTBSatu, Senin, 13 April 2026.
Melalui kerja sama tersebut, pelatihan terbagi kepada masing-masing mitra. BLK Provinsi NTB menangani pelatihan tata boga, sementara Victoria Group mengelola pelatihan barista dan waiter atau pelayan.
Ia menambahkan, pihak sekolah sebelumnya telah melakukan asesmen minat siswa untuk menentukan jenis pelatihan. “Sekitar 100 siswa mengikuti program ini,” ungkapnya.
Menurut Musyrifin, kolaborasi ini menjadi langkah konkret SMAN 1 Gunungsari dalam menyiapkan lulusan yang siap kerja maupun mampu berwirausaha. “Ini langkah nyata untuk menyiapkan siswa agar dapat mandiri setelah lulus,” katanya.
Program pelatihan berlangsung selama kurang lebih 10 hari dan akan resmi dimulai pada Rabu, 15 April 2026 dengan kombinasi teori dan praktik. Selain itu, siswa juga akan menjalani praktik langsung di BLK serta di sejumlah hotel guna memperkuat pengalaman kerja.
Upaya Tekan Pengangguran
Setelah menyelesaikan pelatihan, peserta akan menerima sertifikat dari lembaga terkait sebagai bukti kompetensi. Musyrifin menilai, program ini turut mendukung upaya pemerintah dalam menekan angka pengangguran dan meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Ia mengungkapkan, tidak semua lulusan SMA melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Oleh karena itu, sekolah perlu menghadirkan alternatif pembekalan keterampilan.
“Persentase yang melanjutkan kuliah tidak sampai 30 hingga 40 persen, sehingga ini bentuk komitmen kami, menyiapkan dan membantu siswa yang tidak melanjutkan pendidikan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan, seluruh biaya pelatihan ditanggung oleh sekolah, mulai dari instruktur, bahan, hingga peralatan. Oleh karena itu, untuk menjaga komitmen peserta, sekolah juga melibatkan orang tua dalam pengawasan serta membuat kesepakatan bersama.
“Jika tidak serius, tentu ada sanksi, karena sekolah dan orang tua sudah menandatangani kesepakatan. Karena semua ini sudah difasilitasi secara penuh oleh sekolah,” tegasnya.
Ia berharap, kerja sama ini dapat menumbuhkan jiwa kewirausahaan siswa sekaligus membuka peluang kerja setelah lulus. “Kami ingin siswa memiliki jiwa entrepreneur dan mampu mandiri,” harapnya. (*)



