Sains & Teknologi

Gerhana Bulan Total dan Parade Enam Planet akan Warnai Indahnya Malam Ramadan 1447 H di NTB

Mataram (NTBSatu) – Masyarakat Indonesia, khususnya di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) bersiap menyambut peristiwa astronomi ganda saat Ramadan 1447 H/2026 M. Berdasarkan keterangan dari Stasiun Geofisika Mataram, fenomena gerhana bulan total akan terlihat di Indonesia pada 3 Maret 2026.

Fenomena ini menjadi lebih unik karena bersamaan dengan konfigurasi linear enam planet atau parade planet. Pengamat Meteorologi dan Geofisika Pertama BMKG Stasiun Geofisika Mataram, Zahrotul Millah, S.Tr.Geof., menekankan jika fenomena astronomi bukan pertanda mistis.

​”Setiap fenomena astronomi, seperti gerhana atau konjungsi planet merupakan peristiwa alam yang dapat dijelaskan dan diprediksi melalui perhitungan ilmiah. Bukan merupakan pertanda mistis tertentu,” katanya kepada NTBSatu, Senin, 23 Februari 2026.

Bagi masyarakat yang berada di wilayah NTB, prediksinya gerhana bulan total akan terjadi tepat saat bukan terbit di ufuk Timur. Puncaknya akan berlangsung pada pukul 19.34 Wita.

Informasi ini memungkinkan para pengamat di wilayah NTB, bisa menyaksikan secara langsung kondisi bulan yang berwarna merah tembaga. Tergantung pada kondisi cuaca.

Secara teknis, gerhana bulan total tidak memiliki interval tahunan yang tetap. Kejadiannya tergantung periode dan fase bulan dengan siklus historis antara satu sampai tiga tahun sekali.

Berdasarkan catatan, sejak tahun 2020, gerhana bulan total terjadi pada Mei 2021, Mei dan November 2022, dan sempat BMKG prediksi muncul pada Maret dan September 2025, sebelum datang prediksi fenomena Maret 2026.

Masyarakat Bisa Saksikan dengan Mata Telanjang

Selain gerhana, masyarakat juga bisa menyaksikan fenomena parade enam planet. Untuk planet Venus, Merkurius, Jupiter, dan Saturnus, bisa disaksikan dengan mata telanjang.

Pada sisi lain, untuk planet Uranus dan Neptunus yang memiliki jarak cukup jauh dari Bumi butuh alat bantu khusus seperti teleskop agar bisa melihatnya.

Lebih lanjut, Zahrotul menegaskan, konfigurasi posisi bukan beserta enam planet. Tidak mengakibatkan dampak signifikan terhadap ketinggian pasang surut air laut di pesisir NTB maupun wilayah Indonesia lainnya.

Saat ini, Zohratul mengimbau masyarakat selalu merujuk pada informasi resmi yang bersumber langsung dari BMKG untuk menghindari penyebaran hoaks.

“Masyarakat diharapkan bersikap rasional, kritis, dan tidak mudah terpengaruh oleh mitos, maupun informasi yang tidak terverifikasi,” tambahnya. (Inda)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button