Mahfud MD Ngaku Tak Terkejut Eks Kapolres Bima Kota Terseret Kasus Narkoba
Singgung Kasus Teddy Minahasa
Mahfud kemudian menyinggung kasus mantan Kapolda yang pernah ramai diperbincangkan, yakni Teddy Minahasa yang disebutnya sebagai salah satu kasus paling spektakuler.
Ia menjelaskan, Teddy Minahasa sebelumnya dikenal sebagai perwira berprestasi dan sempat dipromosikan ke jabatan strategis sebelum akhirnya terseret kasus narkoba.
“Yang paling spektakuler dulu kan Teddy Minahasa. Dia dianggap polisi baik, berprestasi, gitu lah. Lalu diangkat menjadi kapolda kelas yang termasuk elite. Jawa Timur itu kan luar biasa, hampir sama dengan Jakarta,” ungkap Mahfud.
“(Dulunya Kapolda) Sumatera Barat. Hanya sehari sebelum dilantik (Kapolda Jawa Timur) ditangkap karena narkoba. Itu kan spektakuler. Dan pengakuan-pengakuannya dari para saksi dan terbukti secara sah dan meyakinkan, ya memang rusak,” tambahnya.
Mahfud menilai, rangkaian kasus tersebut memperlihatkan persoalan mendasar dalam sistem pengawasan aparat. Ia juga menyoroti isu lama terkait dugaan penyimpangan barang bukti narkoba.
Menurutnya, kerap muncul kabar jumlah barang bukti yang dimusnahkan tidak sesuai dengan yang disita. Ia mencontohkan, praktik penggantian barang bukti dalam perkara Teddy Minahasa yang terungkap di pengadilan.
“Dan seperti Teddy Minahasa, kan tepung? Iya kan? Teddy Minahasa saksinya ngaku sendiri bahwa itu diganti. Iya kan? Narkobanya ke mana? Yang lain dimanfaatkan oleh dia secara ilegal. Ini bukti pengadilan, ya,” ujar Mahfud.
“Yang lain yang disetor atau dibakar di depan publik itu tepung apa itu namanya dulu, sudah lupa. Iya kan? Banyak yang seperti ini,” lanjutnya.
Ia menegaskan, praktik penyalahgunaan barang bukti, penjebakan, hingga dugaan peredaran narkoba di dalam lembaga pemasyarakatan menunjukkan persoalan sistemik yang harus segera dibenahi. (*)


