Ekonomi Bisnis

Remitansi NTB 2025 Tembus Rp105 Miliar

Mataram (NTBSatu) – Di balik gemuruh angka statistik pembangunan, ada denyut nadi ekonomi yang mengalir deras dari keringat para pahlawan devisa asal Nusa Tenggara Barat (NTB).

Sepanjang tahun 2025, kontribusi mereka tidak main-main, uang kiriman dari luar negeri atau remitansi menembus ratusan miliar. Sebuah angka yang menjadi “penyelamat” sekaligus motor penggerak ekonomi di ribuan desa pelosok Bumi Gora.

Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) NTB, Kombes Pol. Ponco Indriyo mengungkapkan, angka ini lahir dari perjuangan 25.062 warga NTB yang menempuh jalur resmi.

“Malaysia tetap menjadi mitra strategis utama dengan menyerap 23.685 tenaga kerja, khususnya di sektor perkebunan,” ujarnya, Kamis, 8 Januari 2026.

IKLAN

Secara kewilayahan, Kabupaten Lombok Timur dan Kabupaten Lombok Tengah tetap menjadi kontributor terbesar dengan total akumulasi mencapai lebih dari 19.000 pekerja.

Besarnya volume penempatan ini berdampak langsung pada penguatan daya beli masyarakat. Berdasarkan data Bank Indonesia, total remitansi yang mengalir ke NTB mencapai angka signifikan sebesar Rp105.174.190.058,62.

“Angka remitansi yang melampaui Rp105 miliar ini merupakan bukti konkret kontribusi PMI sebagai pilar ekonomi nasional dan daerah. Tugas negara adalah memastikan devisa ini berbanding lurus dengan kesejahteraan pekerja,” jelas Ponco.

Perang Melawan “Jalur Gelap”

Di balik gemerlap remitansi, ada sisi gelap yang terus diperangi oleh Kombes Pol. Ponco Indriyo, yakni sindikat PMI ilegal. Dengan latar belakang kepolisiannya, beliau paham betul bahwa jalur non-prosedural adalah pintu masuk menuju eksploitasi dan perdagangan orang.

Sepanjang 2025, tindakan tegas BP3MI NTB bersama jajaran kepolisian berhasil menyelamatkan 178 nyawa dari jebakan sindikat.

Mayoritas korban pencegahan berasal dari Lombok Timur (70 orang) dan Lombok Tengah (40 orang) dengan tujuan utama Malaysia dan Singapura. Sinergi antarwilayah terbukti krusial, di mana informasi pencegahan terbesar didapat dari BP3MI Kepulauan Riau (68 kasus) dan Polres Lombok Barat (36 kasus).

“Bagi kami, satu orang yang berangkat secara ilegal adalah satu nyawa yang terancam. Kami tidak ingin mereka pulang hanya membawa masalah atau sekadar nama. Mereka harus berangkat dengan kepala tegak dan pulang dengan kesejahteraan,” tegas Ponco.

Pergeseran Tren: Kesehatan dan Perhotelan Jadi Primadona

Meskipun sektor perkebunan saat ini mendominasi, hasil survei peminatan kerja menunjukkan adanya perubahan aspirasi di kalangan calon pekerja migran.

Sektor Kesehatan (30,4 persen) kini menjadi yang paling diminati, diikuti oleh sektor Hospitality/Perhotelan (26,7 persen) dan Manufaktur (25,9 persen).

NTB juga mencatat tren positif dalam diversifikasi sektor kerja melalui skema Government to Government (G to G). Sebanyak 428 PMI berhasil mengisi posisi profesional di Korea Selatan, Jepang, dan Jerman.

Hal ini menunjukkan tenaga kerja NTB mulai bergerak dari sektor informal menuju sektor profesional berkeahlian tinggi, guna meningkatkan posisi tawar di pasar global.

“Kita tidak boleh puas hanya mengirim tenaga kasar. Fokus kami adalah memastikan pekerja berangkat dengan kompetensi tinggi sehingga mereka lebih terlindungi secara sistem,” tambahnya. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button