Produksi Bawang NTB Terus Meningkat, Komisi II: Petani Nikmati Keuntungan Besar
Mataram (NTBSatu) – Anggota Komisi II DPRD NTB, Hulaemi menanggapi tren positif sektor pertanian bawang yang terus menunjukkan peningkatan signifikan sepanjang 2025 hingga awal 2026.
Hulaemi menyebut, kebijakan pemerintah yang menahan impor bawang merah menjadi salah satu faktor utama stabilnya harga di tingkat petani.
Ia menjelaskan, Indonesia termasuk NTB, tidak bergantung pada impor bawang merah sehingga tidak mengganggu stabilisasi harga dalam negeri.
“Karena kita tidak impor bawang merah, itu tidak mengganggu stabilisasi harga. Sepanjang tahun ini harga bawang merah tinggi dan itu membuat petani benar-benar untung,” ujar Hulaemi, Selasa, 6 Januari 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut wajar membuat petani merayakan hasil panen mereka. Bahkan, ia menyebut keuntungan petani bawang merah selama 2025 tergolong besar dan merata.
“Mulai April, Mei 2025 sampai sekarang, harga bawang tidak pernah merugikan petani. Untung besar semua. Saya yakin banyak petani yang beli mobil tahun ini,” ujar politisi PAN tersebut.
Hulaemi juga menyebut, dua komoditas pangan yang mengalami kenaikan paling signifikan adalah bawang merah dan cabai. Ia menilai, kenaikan harga cabai rawit juga masih dalam batas kewajaran.
“Kalau cabai rawit naik itu wajar. Seperti kata Pak Menteri, saat harga jatuh petani juga tidak menangis. Jadi biarkan sekarang mereka menikmati harga tinggi,” ujarnya.
Selain bawang merah, Hulaemi juga menyoroti pengembangan bawang putih sebagai komoditas strategis nasional. Meski produksi bawang putih dalam negeri mulai menunjukkan peningkatan, Hulaemi menilai tantangan utama masih terletak pada keterbatasan lahan dan tingginya kuota impor.
Ia menyebut, target swasembada bawang putih nasional yang pemerintah rencanakan pada 2028 hanya bisa tercapai jika produksi bibit dan perluasan lahan tanam secara serius dan terencana.
“Produksi bibit harus ditingkatkan. Hasil panen petani lokal sekarang harus didukung pemerintah untuk dikembangkan terus,” tegasnya.
Daerah Potensial Bawang Putih di NTB
Menurut Hulaemi, tidak semua wilayah cocok untuk tanaman bawang putih. Komoditas ini membutuhkan dataran tinggi dan kondisi lahan tertentu. Beberapa daerah potensial di NTB antara lain Sembalun di Lombok Timur, Suela, Sambelia, serta beberapa wilayah di Bima.
“Bawang putih ini cocoknya di dataran tinggi. Tidak semua lahan bisa. Ada lahan miring yang masih bisa digarap, tapi yang curam harus dibentuk dulu,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya pembukaan dan penataan lahan baru, termasuk pengolahan lahan miring agar layak ditanami. Tanpa perluasan lahan, pengembangan bawang putih dikhawatirkan stagnan.
“Kalau lahannya itu-itu saja, produksinya juga akan begitu-begitu saja. Lahannya ada, tapi tidak dibentuk dan tidak digemburkan,” katanya.
Hulaemi juga mengkritisi masih tingginya kuota impor bawang putih, yang ia nilai melemahkan semangat petani lokal. Ia menyebut, kuota impor bawang putih pada 2025 mencapai sekitar 250 ribu ton.
“Kalau produksi dalam negeri sudah mulai naik, kuota impor harus diturunkan. Kalau petani sudah produksi tapi impor terus masuk, itu bisa meruntuhkan semangat petani,” tegasnya.
Ia berharap, Pemerintah Pusat lebih konsisten menekan impor seiring peningkatan produksi dalam negeri agar petani bawang putih benar-benar merasakan manfaat ekonomi.
“Petani mau tanam kalau mereka dapat harga. Kalau impor terus mengalir, petani bisa jatuh,” tutupnya. (Zani)



