Waduh! Ternyata Banyak Kades yang Tidak Lulus SMP di Indonesia, Netizen Kaitkan dengan Film Jumbo

Mataram (NTBSatu) – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengungkap, sekitar 20 persen kepala desa (kades) di Indonesia belum menamatkan pendidikan setingkat SMP.
Artinya, sekitar 15.053 dari 75.265 kades di Indonesia tidak tamat SMP. Pernyataan ini sontak menuai sorotan dan beragam respons dari masyarakat.
Dalam keterangannya, Tito menyebut bahwa kendala tersebut turut memengaruhi efektivitas program pembangunan desa. Namun, ia menegaskan kades yang terpilih secara demokratis oleh rakyat tidak bisa sepenuhnya disalahkan atas hambatan-hambatan tersebut.
Menurutnya, rendahnya pendidikan formal tidak selalu mencerminkan minimnya pengetahuan. Di mana banyak juga kades yang belajar secara otodidak.
Sebagai solusi, Kemendagri telah menginisiasi Program Penguatan Pemerintahan dan Pembangunan Desa (P3PD). Program yang mendapat dukungan dari Bank Dunia ini targetnya bisa meningkatkan kapasitas sekitar 70.000 kepala desa di seluruh Indonesia.
Meski begitu, warganet justru mengaitkan isu ini dengan berbagai sindiran tajam dan candaan. Salah satu komentar menulis, “Moral dari filem Jumbo, Kades jarang ada yang benar.” Komentar ini merujuk pada film satire yang mengangkat isu kepemimpinan di pedesaan.
Warganet lain juga mempertanyakan bagaimana seorang kepala desa dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat, bila pendidikannya sendiri masih rendah.
“Minimal setara paket B sampai C lah, syukur-syukur setara S1 (KKNI 7),” tulis akun @edowidivirgin.
Komentar-komentar lain bahkan menyentil isu klasik soal kekuasaan dan uang. “Faktanya, daftar kades harus kaya bukan karena kapasitas,” sindir akun @ahmad_najibs. Sedangkan @awalsuharta9 berkomentar, “Gak ngaruh mau gak sekolah juga yang penting BANYAK DUIT.”
Fenomena ini kembali membuka diskusi luas mengenai standar pendidikan pemimpin desa, serta tantangan besar pemerintah dalam membangun kualitas kepemimpinan desa secara menyeluruh. (*)