Opini

Langkah Pertama Doktor Zul

Oleh: Satria Tesa (Mahasiswa Pascasarjana Unram, Ketua Relawan Doktor Zul Effect NTB)

Perjalanan panjang selalu dimulai dari langkah pertama. Kalimat ini seringkali disampaikan dan menjadi platform (pesan publik) Doktor Zulkiefliemansyah ketika menjadi Gubernur NTB 2018-2023. Kalimat itu nampak pendek dan kelihatan sederhana, namun dibalik itu menyimpan makna mendalam tentang arti pemimpin dan perjalanan panjang satu periode kepemimpinan NTB Gemilang.

Lima tahun NTB Gemilang yang dijalankan Zul-Rohmi secara umum berjalan normal. Disebut demikian karena visi dan misi yang tertuang dalam RPJMD Provinsi NTB 2019-2023 dalam aktualisasinya tentu ada yang terlaksana secara optimal, cukup optimal, dan belum optimal sehingga perlu ada koreksi dan evaluasi kedepannya.

Apalagi kita tahu secara bersama bahwa di fase awal NTB Gemilang daerah kita diuji dua peristiwa besar yakni Gempa Lombok 2018 dan Pandemi covid-19, 2019-2023. Peristiwa besar itu force majeure yang tentu punya andil yang signifikan yang mempengaruhi situasi dan kondisi pemerintahan. Tapi hal-hal tersebut tidak membuat Doktor Zul menyerah apalagi ditaklukkan keadaan. Justru melalui itu “seni berfikir dan bertindak” mendapakan momentum pembuktian. Terbukti, NTB bisa bangkit dari dua bencana dan menorehkan beragam prestasi gemilang setelah itu.

Tulisan ini dimaksudkan sebagai refleksi kepemimpinan Doktor Zul selama satu periode menjadi Gubernur NTB.


Menurut penulis, ada tiga core value (nilai utama) kepemimpinan Doktor Zul yang kaya pelajaran, makna dan keteladanan. Nilai tersebut relevan dijadikan contoh bagi para pengemban otoritas publik dan kita semua.

Pertama, menolak membuat dan membangun jarak dengan rakyat. Itu terlihat dari caranya memahami dan memaknai masyarakat. Menjadi Gubernur yang adalah orang nomor satu di NTB tidak membuat dirinya membatasi perjumpaan sebagaimana “budaya” pemimpin lainnya demi menjaga kewibawaan. Beliau bisa diakses oleh semua orang (online/offline) tanpa memandang “bentuk kulit” dan “bentuk pangkat dan jabatan” atau status sosial, politik dan ekonomi masyarakatnya.

Bahkan tidak terhitung jumlahnya beliau turun menyapa, berkomunikasi, berdialog demi membaca kebutuhan dan menyerap aspirasi masyarakat. Tanpa kenal istilah lelah, jenuh dan bosan. Pada momentum ini Doktor Zul seperti menebarkan pesan tentang nilai-nilai demokrasi subtantif yaitu dengan melibatkan partisipasi masyarakat secara luas oleh Jurgen Habermas disebut demokrasi deliberatif.

Kedua, kokoh memperjuangkan visi. Seperti yang kita tahu bersama, bahwa visi NTB Gemilang adalah refleksi dari makna ungkapan Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghofur atau daerah yang aman, nyaman, dan menyenangkan dimana hidup dan kehidupan dipenuhi hikmah dan keberkahan. Untuk menjalankan visi tersebut, salah satunya melalui misi: Mewujudkan NTB Cerdas melalui program: Beasiswa NTB.

Beasiswa NTB menurut penulis maha karya atau karya besar Doktor Zul. Jika kita pernah membaca dan memahami Restorasi Meiji (1866-1869) maka kita akan memahami betapa program tersebut sarat dengan nilai yang relevan untuk NTB dan Indonesia dimasa mendatang. Bahwa Jepang yang kini menjadi negara maju dimulai dengan “investasi” untuk menyekolahkan putra-putri terbaiknya di Eropa.

Berita Terkini:

Kemajuan Jepang itu menjadi fakta sejarah bahwa untuk menjadi negara maju, unggul dan berdaya saing maka majukan kualitas manusianya. Dan tentu ini perlu waktu dan kesabaran.
Doktor Zul nampak sangat memahami hal tersebut dan bertekad mewujudkan itu.

Mahakarya itu berjalan sangat optimal. Fakta tersebut ditandai dengan melampauinya target dalam RPJMD NTB 2019-2023. Bagaimana tidak dilansir dari ntb.prov.go.id, sebenarnya target program itu 1000 beasiswa untuk pemuda NTB. Brilian, pelaksanaannya menembus 4.625 orang penerima (awardee). Terdiri dari awardee luar negeri sebanyak 731 orang dan awardee dalam negeri sebanyak 3.894 orang.

Memberikan beasiswa itu, seperti yang rutin disampaikan Doktor Zul dilakukan untuk mengubah mindset atau cara berpikir generasi. Lebih dari itu, program tersebut investasi untuk 20 sampai 30 tahun yang akan datang. Beliau ingin generasi NTB menjadi pemain nasional bahkan pemain global. Yang kelak bisa memimpin Indonesia. Bukan pemain lokal yang cara berpikirnya sempit, dan sarat dengan zona nyaman seperti klaim kedaerahan tertentu.

Dari program tersebut terlihat kebaruan, dan kokohnya Doktor Zul melaksanakan visi. Ditengah keterbatasan APBD, ketidaksiapan SDM dan budaya yang sedemikian praktis yang menggerogoti birokrasi, komitmen membangun negeri melalui peningkatan kualitas manusia menyala.
Menurut penulis program tersebut mengandung makna “Primum et summum bonum” atau kebajikan yang utama.

Ketiga, pentingnya bergaul dan berjejaring luas atau Universum Kosmis luas. Tentu karena cara berpikir (mindset) manusia ditentukan oleh dua hal yang mendasar yaitu “bacaannya apa” dan “bergaulnya dimana”. Pergaulan nasional dan internasional Doktor Zul tentu memudahkan komunikasi-komunikasi untuk membangun daerah melalui beragam program. Dipilihnya NTB sebagai tuan rumah ivent global seperti MotoGP, WSBK MXGP dan lainnya tentu berkat jejaring luas.

Pentingnya jejaring luas akan membantu pemimpin mencari dan menemukan solusi dari masalah yang ia hadapi. Hal itu terlihat terang ketika Doktor Zul membawa sejumlah mahasiswa menemui langsung Menteri PUPR di Jakarta April 2023 lalu. Pertemuan itu dilakukan untuk melobi anggaran perbaikan jalan. Kemudian Mei 2023 Doktor Zul menggandeng Bupati dan Walikota di NTB menemui Menteri PUPR untuk mengadukan problem infrastruktur di kabupaten dan kota yang mereka pimpin.


Langkah itu telah membuat Pemerintah pusat menggelontorkan lebih dari 200 miliar APBN, melalui program Percepatan Peningkatan Konektivitas Jalan Daerah atau Inpres Jalan Daerah. Anggaran tersebut dialokasikan untuk memperbaiki 40 kilo lebih jalan rusak di lima ruas jalan di NTB yaitu:

Pertama, ruas jalan Lembar-Sekotong-Pelangan di Lombok Barat. Total anggaran Rp. 87.11 miliar.

Kedua, ruas jalan Polamata-Jelanga di Kabupaten Sumbawa Barat. Total anggaran Rp. 15,47 miliar.

Ketiga, ruas jalan Sabedo Dalam-Bukit Planing di Kabupaten Sumbawa. Total anggaran Rp. 22,75 miliar.

Keempat, ruas jalan Lenanggguar-Teladan di Kabupaten Sumbawa. Total anggaran Rp. 9 Miliar.

Berita Terkini:

Dan kelima ruas jalan Jalan Wilamaci-Karumbu-Sape di Kabupaten Bima. Total anggaran Rp. 77,24 miliar.

Perbaikan lima ruas jalan tersebut kemudian diresmikan Presiden Jokowi pada Kamis 2 Mei 2024. (Kemenpan.go.id).

Perjalanan panjang dimulai dari langkah pertama. Langkah pertama itu telah mewarnai satu periode kepempinan. Bagaimana langkah Doktor selanjutnya. Kita akan lihat pada proses Pilkada 2024 ini. Apakah pasangan Zul-Rohmi atau NTB Gemilang jilid II bisa mempertahankan kemenangan dan berbuat lebih banyak lagi kebaikan-kebaikan bagi NTB?

Rakyatlah yang menentukan itu semua.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button