Karena Anggaran Terbatas, Sejumlah Warga Terdampak Abrasi di Mapak Indah Belum Pindah
Mataram (NTBSatu) – Sejumlah warga di Kelurahan Mapak Indah, Kecamatan Sekarbela Kota Mataram yang terkena dampak abrasi masih memilih untuk menempati rumah di pinggir pantai. Hal tersebut karena Pemerintah Kota Mataram memiliki keterbatasan anggaran untuk menambah jumlah rumah hunian sementara.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram, Mahfudin Noor mengatakan, beberapa warga yang masih berada di sekitaran pantai akan direlokasi, agar mereka tak menjadi korban bencana gelombang pasang yang terjadi setiap tahun.
Relokasi merupakan upaya mitigasi bencana, tetapi membutuhkan anggaran besar. Sekitar 15 rumah rusak terdampak dari cuaca ekstrem seperti gelombang pasang.
“Dampak cuaca ekstrem di Mapak Indah ini tiap tahun terulang, bahkan Desember 2022, 27 unit rumah atau KK kehilangan rumah karena terbawa gelombang pasang,” jelasnya.
Sehingga, Mahfudin mengatakan bahwa relokasi menjadi solusi yang harus dipertimbangkan dan dilakukan secara bertahap agar tidak kembali terulang.
Berita Terkini:
- SK Tuan Rumah PON XXII 2028 NTB-NTT Rampung Minggu ini
- 12.500 Dosis Vaksin PMK Digelontorkan, Pemkab Sumbawa Kejar Kekebalan Ternak di Tengah Ancaman Penyakit Musim Hujan
- Kadisparekrafpora Lombok Barat: ‘’Car Free Night’’ Turunkan Angka Kemiskinan
- Kejari Lombok Timur Mulai Selidiki Dugaan Korupsi Bantuan PKH di Pringgasela
“Yang masih berada di lokasi itu sekitar, 9 kilometer pantai Kota Mataram hampir mencapai ratusan KK, kalau di Pantai Mapak Indah tercatat sekitar 110 KK berada pada ancaman abrasi pantai,” ujarnya.
“Itu belum dari kampung nelayan Penghulu Agung, Banjar, Bugis, Pondok Perasi, hingga kawasan Bintaro dan Meninting,” tambahnya.
Selain itu, Pemkot Mataram saat ini baru bisa mengambil langkah dengan mengawasi dan melarang warga membangun rumah lagi di sempadan pantai. Hal tersebut dilakukan karena Pemkot Mataram masih memiliki keterbatasan anggaran untuk membangun rumah.
Sejumlah rumah susun sewa untuk nelayan di Pondok Perasi sudah ditempati oleh sebagian warga dengan jumlah sekitar 43 KK.
Sementara sisanya, tinggal di hunian sementara sekitar 24 KK nelayan di Mapak Indah yang terdampak gelombang pasang tahun 2022. (WIL)



