Perluas Pasar Kerajinan Cukli, Produknya Harus Masuk e-Katalog

Mataram (NTBSatu) – Salah satu kerajinan di Kota Mataram yaitu cukli kini terancam tak berkembang dengan baik. Sebab, sejak pandemi Covid-19 tahun 2020 lalu, permintaan produk kerajinan tersebut mengalami penurunan di pasar domestik maupun mancanegara.
Awalnya, pengiriman kerajinan cukli ini bisa mencapai belahan Eropa, sekarang hanya kisaran di negara-negara tetangga Indonesia, seperti Singapura. Bahkan, sudah banyak pengrajin cukli yang gulung tikar dengan beragam faktor.
Padahal sebagai salah satu kerajinan khas Lombok, cukli kerap kali menjadi target suvenir para wisatawan lokal maupun mancanegara. Selain karena bentuknya yang cantik dan unik, kerajinan cukli memiliki daya tahan yang tinggi, karena pada umumnya menggunakan bahan baku yang bagus.
Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB, Nuryanti menegaskan bahwa pihaknya tetap memberikan perhatian terhadap kerajinan cukli di Kota Mataram ini.
“Tetap kami dukung dengan belanja-belanja pemerintah, yang utama untuk menggunakan produk cukli di kantor-kantor pemerintahan. Serta, mendorongnya untuk masuk e-katalog,” ujar Nuryanti Minggu, 25 Februari 2024
Berita Terkini:
- Gubernur Iqbal Dudukkan Tokoh dan Ulama, Ajak Mayarakat NTB Tak Mudah Terprovokasi
- Empat Pendemo Gedung DPRD NTB Dikabarkan Diamankan Polisi
- Gedung DPRD NTB Luluh Lantak, Isyarat Pelampiasan Kekecewaan pada Wakil Rakyat
- Lalu Lintas Jalan Udayana Mataram Kembali Lancar Setelah Massa Demo-Bakar Gedung DPRD NTB
Ia menilai secara kualitas, produk cukli Kota Mataram sudah dapat bersaing dengan kerajinan lain yang telah masuk e-katalog lebih dulu.
“Sehingga ini yang terus kita dorong, agar produk-produk kerajinan yang lain di NTB bisa masuk e-katalog. Agar pasarnya bertambah dan menjadi luas,” jelas Nuryanti.
Pihaknya juga memberikan atensi khusus terhadap kerajinan cukli ini, terutama mengenai sumber kayu yang digunakan.
“Mengingat hutan NTB juga perlu dilestarikan, sehingga memang ekstra substitusi dan diversifikasi produk-produk meubel non kayu,” tambah Nuryanti. (JEF)