IKLAN
Advertorial

Lombok Timur dan Lombok Tengah Banyak Dapat Jatah Embung dan Sumur Bor, Ini Alasannya

Mataram (NTB Satu) – Provinsi NTB merupakan wilayah yang terkenal sebagai salah satu daerah penghasil tembakau terbesar. Oleh karena itu, pada tahun 2022, Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB kembali mendapat jatah Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau.

Melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) NTB, Pemprov NTB telah membangun embung dan sumur bor di empat wilayah di NTB untuk meningkatkan kualitas bahan baku tembakau.

IKLAN

Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR NTB, Lalu Kusuma Wijaya mengatakan Pulau Lombok adalah salah satu sentra yang cukup besar memproduksi tembakau.

“Maka dari itu, kami membangun lebih banyak embung dan sumur bor di Pulau Lombok dibandingkan dengan Pulau Sumbawa,” ujar Kusuma, Jumat, 11 November 2022.

Untuk rinciannya, Kusuma menerangkan, Lombok Timur dan Lombok Tengah menjadi daerah yang paling banyak dibangunkan embung dan sumur bor.

“Sebab, kedua daerah tersebut memang menjadi sentra tembakau di NTB,” tandas Kusuma.

Pembangunan embung dan sumur bor milik Dinas PUPR NTB yang terletak di empat wilayah di NTB, diketahui didanai oleh DBHCHT 2022. Ketentuan terbaru mengenai penggunaan, pemantauan, dan evaluasi DBHCHT telah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan nomor 215/PMK.07/2021 dengan pokok pengaturan, yaitu empat puluh persen untuk kesehatan, kemudian lima puluh persen untuk Kesejahteraan Masyarakat (termasuk tiga puluh persen peningkatan kualitas bahan baku, peningkatan keterampilan kerja dan pembinaan industri dan dua puluh persen pemberian bantuan) serta sepuluh persen untuk penegakan hukum.

Sosialisasi tentang Pidana Rokok Ilegal

Pengedar ataupun penjual rokok ilegal termasuk melakukan pelanggaran yang dapat berpotensi sebagai pelanggaran pidana. Sanksi untuk pelanggaran tersebut mengacu pada Undang-undang RI Nomor 39 Tahun 2007 tentang cukai.

Ancaman pidana ini diatur dalam pasal 54 dan pasal 56 Undang-undang RI Nomor 39 Tahun 2007 tentang cukai. Bunyi pasal tersebut sebagai berikut:

Dalam Pasal 54, “Setiap orang yang menawarkan, menyerahkan, menjual, atau menyediakan untuk dijual barang kena cukai yang tidak dikemas untuk penjualan eceran atau tidak dilekati pita cukai atau tidak dibubuhi tanda pelunasan cukai lainnya, sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) Maka dipidana dengan pidana Penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit 2 (dua) kali nilai cukai dan paling banyak 10 (sepuluh) kali nilai cukai yang harus dibayar.”

Dalam Pasal 56, “Setiap orang yang menimbun, memiliki, menjual, menukar, memperoleh, atau memberikan barang kena cukai yang diketahuinya atau patut diduga berasal dari tindak pidana berdasarkan Undang-undang ini. Maka dipidana paling singkat 1 (satu) tahun paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling sedikit 2 (dua) kali nilai cukai dan paling banyak 10 (sepuluh) kali nilai cukai yang seharusnya dibayar.”

Bagaimana mengenal rokok ilegal?

Ciri-ciri rokok ilegal dengan metode sederhana, yaitu pengamatan secara langsung. Cirinya adalah rokok tanpa pita cukai, rokok dengan pita cukai bekas, rokok dengan pita cukai palsu, dan rokok dengan pita cukai salah peruntukan.

Maka siapapun yang sedang menjalankan bisnis rokok dengan cukai ilegal, maka disarankan hentikan dari sekarang. Hal ini gencar disosialisasikan stakeholders yang terlibat, seperti Bea Cukai, Sat Pol PP Provinsi NTB, Bappeda NTB, serta Pemda Kabupaten dan Kota. (GSR)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button