Layanan Kesehatan MotoGP Mandalika Disokong Anggaran Rp3,6 Miliar
Mataram (NTBSatu) – Pemprov NTB bersama Mandalika Grand Prix Association (MGPA) mengalokasikan anggaran sebesar Rp3,6 miliar untuk membiayai seluruh kebutuhan layanan kesehatan selama tiga hari gelaran ajang balap dunia MotoGP Mandalika 2026.
Pemprov NTB menanggung biaya sebesar Rp2,3 miliar untuk operasional medis di Ring 1 area lintasan balap, sedangkan MGPA menanggung sisanya untuk Ring 2 area penonton.
Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi NTB, drg. H. Asrul Sani mengatakan, alokasi anggaran bernilai miliaran rupiah tersebut berfokus pada pemenuhan operasional medis secara menyeluruh.
“Untuk pembiayaan kesehatan seluruhnya Rp3,6 miliar. Pemprov NTB membiayai Ring 1 sekitar Rp2,3 miliar. Sedangkan sisanya menjadi tanggung jawab MGPA,” ujar Asrul pada Senin, 28 September 2026.
Asrul menjelaskan, pembagian skema pendanaan ini mengacu pada regulasi dan kebijakan penanganan medis yang disepakati bersama antara pemerintah daerah dan penyelenggara. Pihaknya menyepakati porsi anggaran berdasarkan zonasi area sirkuit.
“Kami di sini sifatnya mengikuti kebijakan. Ring 1 itu di lintasan, sedangkan Ring 2 di area penonton,” jelasnya.
Ia menambahkan, skema pembiayaan tersebut mencakup honorarium tenaga kesehatan, sewa peralatan medis, pengadaan obat-obatan, serta biaya konsumsi dan akomodasi penginapan bagi para petugas medis di lapangan.
Asrul berusaha untuk menekan efisiensi anggaran tanpa mengesampingkan kualitas layanan kegawatdaruratan. Kemudian, pengelola fasilitas kesehatan mengoptimalkan sinergi daerah melalui sistem sewa unit ambulans dari rumah sakit kabupaten dan kota se-NTB. Termasuk keterlibatan armada dari Kabupaten Sumbawa. Seluruh unit ambulans sewaan tersebut bersiaga untuk memperkuat kesiapsiagaan di zona Ring 1 dan Ring 2.
Siagakan 343 Nakes dan Sembilan Dokter Spesialis
Pihaknya menyerap alokasi anggaran tersebut untuk menyiagakan 343 personel tenaga kesehatan atau nakes demi mengawal keselamatan pembalap hingga penonton selama tiga hari balapan. Asrul mengungkapkan bahwa kesiapan tim medis saat ini telah mencapai tahap akhir.
“Tingkat kesiapan kita sudah mencapai 95 persen. Sisa 5 persen lagi akan kami matangkan melalui simulasi penanganan darurat pada tanggal 6 sampai 8 mendatang,” katanya.
Dari total 343 nakes, sebanyak 170 personel medis bersiaga khusus di Ring 1 untuk merespons cepat potensi kecelakaan (crash) pembalap di lintasan. Sementara itu, personel selebihnya bertugas di Ring 2 untuk menangani kesehatan penonton, serta mendukung Ring 3 dan Ring 4 yang melibatkan rumah sakit kabupaten/kota.
Selain itu, anggaran tersebut juga membiayai sembilan jenis dokter spesialis, meliputi spesialis bedah, anestesi, hingga radiologi. Mengenai sistem rujukan, Aseul menjelaskan untuk memfokuskan RSUD Provinsi NTB sebagai rujukan utama penanganan kasus darurat berat pembalap. Adapun RSUD Mandalika bersiaga untuk penanganan rujukan medis di zona Ring 3 dan Ring 4.
Dalam memenuhi kebutuhan dokter umum maupun spesialis, pengelola tidak hanya mengandalkan nakes lokal, tetapi juga melibatkan tenaga medis dari Jakarta, Jawa Timur, dan Bali. Asrul menjelaskan penyelenggara merekrut mereka secara efisien melalui seleksi terbuka Medical Emergency Academy (MEA) yang berlangsung sejak empat bulan lalu.
“Sebelum merekrut tenaga ini, kami melaksanakan Medical Emergency Academy. Petugas yang lulus akademi itulah yang kami tugaskan, sehingga kualifikasi mereka dapat kita sesuaikan secara fleksibel setiap tahunnya,” turur Asrul. (Japriani)




