Lombok TimurPariwisata

Kebakaran Hutan Rinjani Meluas hingga 977,74 Hektare

Lombok Utara (NTBSatu) – Kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) hingga Sabtu, 27 September 2026 meluas ke area yang diperkirakan mencapai 977,74 hektare.

Kepala Balai TNGR, Budhy Kurniawan mengatakan, tim masih menghitung luasan tersebut melalui pemantauan lapangan, pemetaan, dokumentasi udara menggunakan drone, dan verifikasi batas area terdampak.

“Luasan ini masih kami hitung dan akan terus kami perbarui berdasarkan hasil pemantauan serta pemetaan di lapangan,” kata Budhy dalam keterangan tertulis Balai TNGR, Sabtu malam, 26 September 2026.

IKLAN

Kebakaran pertama kali muncul pada 22 September 2026 di kawasan Bukit Setampol, Puncak Sangkareang, Jalur Pendakian Senaru dan sekitarnya. Api kemudian menjalar ke wilayah Resor Torean dan Senaru, SPTN Wilayah I.

TNGR mengerahkan tim gabungan untuk memadamkan api, memantau perkembangan kebakaran, berpatroli, mengamankan jalur pendakian, dan memantau kawasan dari udara menggunakan drone.

Hingga 26 September, sebanyak 80 personel dan tenaga pendukung ikut menangani kebakaran. Mereka terdiri atas satu polisi kehutanan, satu pengendali ekosistem hutan, enam personel Balai Dalkarhut, dua personel KPH Rinjani Barat, 16 Manggala Agni, 43 Masyarakat Peduli Api (MPA), tujuh personel Polri/Brimob, dua TNI, dan delapan porter.

IKLAN

Tim membagi personel ke sejumlah sektor. Termasuk Bukit Setampol, Jalur Pendakian Torean, Senaru, Pos 3 Senaru, Puncak Sangkareang, dan Pelawangan Senaru.

Api di Torean dan Setampol Padam

Di Jalur Pendakian Torean, 24 personel gabungan melakukan pemadaman dan mop-up pada Sabtu. Mereka terdiri atas enam personel Manggala Agni BTNGR, 10 MPA SPTN Wilayah I, enam MPA SPTN Wilayah II, satu anggota Koramil Bayan, dan satu anggota Polsek Bayan.

“Kami memadamkan api di sektor Torean sekitar pukul 12.24 Wita. Setelah itu, tim memeriksa kembali lokasi dan membawa peralatan pemadaman ke Kantor SPTN Wilayah I,” kata Budhy.

Tim dari sektor Senaru dan Bukit Setampol juga terus mengejar titik api dengan dukungan personel Balai TNGR, Brimob Polda NTB, dan masyarakat yang membantu sebagai porter.

Sekitar pukul 15.00 Wita, tim berhasil mengendalikan api di Bukit Setampol. Mereka kemudian melakukan mop-up hingga api benar-benar padam sekitar pukul 16.30 Wita.

Tim tidak langsung meninggalkan lokasi. Mereka memeriksa kembali kawasan untuk memastikan tidak ada bara, asap, atau sisa api yang dapat memicu kebakaran baru.

“TNGR menambah kekuatan personel di sektor Senaru setelah pemantauan menunjukkan api bergerak menuju kawasan Pelawangan Senaru.” ujarnya.

Petugas menambah kekuatan tim dari tiga menjadi 15 orang. Tambahan personel itu berasal dari Manggala Agni SPTN Wilayah II, MPA Sembalun, MPA Senaru, dan KPH Rinjani Barat.

Tim memantau pergerakan api sekaligus melokalisasi titik kebakaran di sekitar Pos 3 Senaru. Mereka juga membersihkan bahan bakar permukaan dan membuat sekat untuk menghambat penjalaran api.

“Kami terus memantau arah pergerakan api dan memperkuat personel di sektor yang memiliki risiko penjalaran,” ujar Budhy.

Petugas menghadapi angin kencang yang dapat mempercepat pergerakan api. Kondisi vegetasi yang kering, seperti savana pegunungan, semak, rumput, dan material organik lainnya, juga memudahkan api menyebar.

Medan pegunungan yang jauh, terjal, dan sulit dijangkau turut menyulitkan tim mengerahkan personel, peralatan, dan logistik ke lokasi kebakaran.

Keselamatan personel juga menjadi pertimbangan utama ketika tim menentukan waktu pergerakan, akses menuju titik api, dan metode pemadaman.

Jalur Senaru dan Torean Ditutup

Perkembangan kebakaran membuat TNGR menutup sementara Jalur Wisata Pendakian Senaru mulai 26 September 2026 hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Kebijakan itu melengkapi penutupan Jalur Pendakian Torean. Untuk sementara, pendaki tidak dapat menggunakan Senaru maupun Torean sebagai pintu masuk dan keluar kawasan.

Budhy mengatakan, TNGR akan mengevaluasi kondisi kebakaran secara berkala sebelum menentukan pembukaan kembali jalur Senaru.

“Kami akan melihat perkembangan penanganan di lapangan sebelum menentukan pembukaan kembali jalur pendakian,” katanya.

Calon pendaki yang sudah memiliki e-ticket melalui Jalur Senaru, mulai 26 September dapat melakukan reschedule atau mengalihkan pintu masuk dan keluar melalui Jalur Sembalun.

Sementara pendaki yang masih berada di kawasan dan sebelumnya memilih Senaru atau Torean sebagai pintu keluar, dapat mengalihkan perjalanan melalui Jalur Sembalun sesuai arahan petugas.

“Pendaki yang masih berada di kawasan dan sebelumnya memilih Senaru atau Torean sebagai pintu keluar kami arahkan untuk melalui Jalur Sembalun sesuai arahan petugas di lapangan,” kata Budhy.

TNGR juga meminta masyarakat, pelaku wisata, dan pengunjung mematuhi penutupan jalur. Mereka diminta tidak mendekati lokasi kebakaran serta tidak melakukan aktivitas yang dapat memunculkan sumber api baru.

Petugas memperketat patroli dan pengawasan kawasan. Mereka juga mengendalikan akses, memeriksa barang bawaan yang berpotensi menjadi sumber api, serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan.

Tim gabungan akan terus memantau, melakukan mop-up, melokalisasi api, dan mengamankan kawasan Bukit Setampol, Puncak Sangkareang, Torean, Senaru, serta wilayah sekitarnya. (*)

Artikel Terkait