Dari Penakak, Gerabah Lokal Menembus Pasar Hotel Bali
Lombok Timur (NTBSatu) – Gerabah dari Penakak, Kecamatan Masbagik, Lombok Timur (Lotim), tak hanya memenuhi kebutuhan rumah tangga masyarakat lokal. Kerajinan berbahan tanah liat ini juga menjangkau pasar hotel di Bali. Salah satu penjual yang menjaga jalur pemasaran tersebut ialah Henli Candra Sulistiani.
Henli telah menekuni usaha gerabah sejak 2000. Selama 26 tahun, ia menyaksikan perubahan jenis produk, permintaan konsumen, hingga jangkauan pemasaran yang semakin luas.
Pada awal merintis usaha, Henli hanya menjual beberapa jenis gerabah, terutama kendi. Namun, permintaan yang terus berkembang membuatnya menyediakan lebih banyak pilihan produk.
“Dulu sedikit-sedikit, cuma kendi dan barang-barang itu. Tapi lama-kelamaan banyak yang mencari, orang lokal juga orang Bali,” kata Henli, Minggu, 11 Oktober 2026.
Kini, tempat usahanya menawarkan beragam produk. Mulai dari kendi, cobek, pot bunga, piring, hingga gentong berukir. Setiap produk menyasar kebutuhan konsumen yang berbeda.
Pembeli lokal umumnya mencari kendi, cobek, dan perlengkapan rumah tangga. Sementara itu, konsumen dari Bali banyak memesan gerabah untuk kebutuhan hotel.
“Kalau orang Bali biasanya yang dipakai di hotel. Seperti anglo, penggorengan, gentong, piring. Pokoknya macam-macam,” ujarnya.
Jaringan Pemasaran Berawal dari Suami
Jangkauan pemasaran gerabah Henli hingga ke Bali berawal dari pengalaman Suaminya. Saat bekerja sebagai sopir, suaminya kerap membawa barang ke Bali dan mengenal sejumlah pengusaha di sana.
Hubungan tersebut kemudian membuka peluang pemasaran gerabah Penakak. Seiring waktu, Henli melanjutkan usaha itu dan melayani pesanan dari pelanggan luar daerah.
“Dulu bapaknya jadi sopir. Dia bawa barang ke Bali, akhirnya kenal sama bos-bos di sana. Jadinya sering membawa barang ke Bali,” katanya.
Kini, Henli mengirim gerabah menggunakan truk ke Bali dan Sumbawa. Pesanan dari luar daerah menjadi salah satu penopang usahanya, selain pembeli lokal yang datang hampir setiap hari.
Meski menjangkau pasar luar daerah, Henli tetap menawarkan gerabah dengan harga beragam. Produk termurah ia jual sekitar Rp5 ribu, sedangkan gerabah berukuran besar dengan ukiran rumit bisa mencapai Rp300 ribu.
Menurutnya, harga tidak hanya bergantung pada ukuran. Tingkat kesulitan pengerjaan turut menentukan nilai jual sebuah produk.
“Kalau prosesnya sulit, meskipun kecil, harganya bisa mahal. Tapi kalau prosesnya mudah, meskipun besar, harganya bisa lebih murah,” jelasnya.
Pandemi Membuka Peluang Baru
Perjalanan usaha Henli tidak selalu berjalan mulus. Ia pernah mengalami penurunan penjualan ketika bom Bali mengguncang sektor pariwisata. Saat itu, permintaan dari Bali merosot dan berdampak pada usaha gerabah di Penakak.
Gempa Lombok juga memengaruhi penjualan. Namun, permintaan tidak sepenuhnya berhenti. Henli justru menemukan peluang baru ketika pandemi Covid-19 mengubah kebiasaan masyarakat.
Saat banyak orang menghabiskan waktu di rumah, permintaan pot bunga dan wadah air meningkat. Pembeli dari Sumbawa bahkan memesan pot dalam jumlah besar.
“Waktu Covid, malah banyak yang mencari pot-pot. Orang menanam bunga di rumah. Dari Sumbawa juga ada yang memesan pot sampai satu truk,” ungkapnya.
Di tengah perubahan pasar, Henli tetap mengandalkan pembeli lokal untuk menjaga perputaran usaha sehari-hari. Sebagian pelanggan membeli gerabah untuk kebutuhan sendiri, sementara lainnya menjual kembali produk tersebut.
Ia juga melihat jumlah warga yang menekuni usaha gerabah di Penakak kini tidak sebanyak dahulu. Sebagian pengrajin beralih ke pekerjaan lain setelah pasar melemah.
Meski begitu, Henli memilih bertahan. Selama masih ada pembeli yang mencari gerabah, ia terus membuka tempat usahanya dan melayani pesanan.
“Terutama orang lokal. Setiap hari ada saja orang yang datang membawa barang untuk dijual,” katanya.
Dari Penakak, Henli terus menjaga usaha yang telah ia jalankan selama lebih dari dua dekade. Ia mengandalkan pelanggan lokal dan jaringan pembeli luar daerah, agar kerajinan gerabah tetap memiliki pasar, termasuk untuk memenuhi kebutuhan hotel di Bali. (*)




