Lombok TimurPendidikan

Anggaran Perbaikan Capai Rp2 Miliar, Atap SDN 3 Semaya Kembali Ambruk

Lombok Timur (NTBSatu) – Kerusakan kembali terjadi di SDN 3 Semaya, Kecamatan Sikur, Lombok Timur (Lotim). Kali ini, bagian teras kelas satu ambruk pada Jumat pekan lalu, meski sekolah tersebut telah menjalani rehabilitasi.

Kepala SDN 3 Semaya, H. Usnan mengatakan, kerusakan serupa terjadi beberapa kali pada bagian bangunan yang berbeda.

“Yang pertama teras kelas lima, terus teras gudang, kemudian kelas tiga dan kelas empat. Terakhir kemarin ini teras kelas satu,” kata Usnan, Senin, 19 Oktober 2026.

Ia mengaku terkejut saat mengetahui kerusakan terbaru. Setelah melihat kondisi sekolah, ia langsung menghubungi pengawas sekolah dan pihak kontraktor.

Usnan mengatakan, pihak kontraktor menyatakan kesediaannya membantu memperbaiki bagian yang rusak. Kontraktor juga berencana mengirim tenaga untuk mengukur kebutuhan material.

Menurut Usnan, kontraktor perlu mengukur bagian yang rusak terlebih dahulu. Langkah itu untuk mengetahui jumlah material yang mereka butuhkan.

“Nanti dia kirim orang untuk mengukur berapa lembar yang dibutuhkan dan bagian mana saja yang rusak,” katanya.

Anggaran Hampir Rp2 Miliar

Usnan menjelaskan, rehabilitasi sekolah mencakup tujuh ruang kelas, ruang guru, dan tiga unit WC. Pekerjaan juga meliputi penggantian genteng serta kayu pada bagian atap.

Ia memperkirakan anggaran rehabilitasi hampir mencapai Rp2 miliar. Namun, kerusakan kembali muncul setelah pekerjaan selesai.

Sebelum rehabilitasi, kondisi bangunan sekolah memang mengalami kerusakan berat. Atap bocor dan sejumlah kayu penyangga lapuk akibat terkena air.

“Dulu kondisinya parah sekali. Atapnya bocor, kayu-kayunya juga sudah lapuk karena terkena air,” ungkapnya.

Usnan menyebut, tiga CV mengerjakan paket rehabilitasi yang berbeda. Salah satunya menangani ruang kelas, perpustakaan, dan laboratorium.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lombok Timur, Lalu Bayan Purwadi mengatakan, pihaknya akan menelusuri penyebab kerusakan tersebut.

Dikbud akan memeriksa kesesuaian pekerjaan dengan spesifikasi teknis. Pemeriksaan juga mencakup penggunaan anggaran dan kualitas material.

“Kita sesuaikan jumlah anggaran, perkembangan teknisnya, termasuk kualitas pekerjaannya seperti apa. Itu nanti menjadi dasar kita menentukan langkah selanjutnya,” kata Bayan.

Ia menyebut, rehabilitasi tersebut berlangsung pada 2024 dan idealnya bangunan mulai digunakan pada 2025. Namun, kerusakan muncul sebelum bangunan berusia dua tahun.

“Belum berusia dua tahun, itu sudah harus hancur. Makanya nanti kita lihat dan kita pertanyakan lagi,” ujarnya.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur akan menelusuri persoalan tersebut sebelum menentukan langkah selanjutnya. (*)

Artikel Terkait