Sade Dibangun Ulang, Galeri Tak Lagi Penuhi Ruang Permukiman
Lombok Tengah (NTBSatu) – Rumah Adat Sade di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, akan mengalami perubahan tata ruang setelah kebakaran. Salah satu perubahan menyangkut keberadaan warung dan galeri yang selama ini memenuhi kawasan permukiman.
Tokoh masyarakat sekaligus Ketua RT Sade, Talim atau Amaq Eva mengatakan, warga memiliki rencana mengurangi keberadaan warung. Dia mengatakan, warga ingin mengembalikan kawasan agar tidak terlihat seperti pasar.
“Rencananya nanti tidak ada warung-warung. Supaya tidak terlalu kelihatannya kayak pasar,” kata Talim kepada NTBSatu, Minggu, 27 September 2026.
Namun, Talim menegaskan rencana tersebut belum menjadi keputusan final. Menurut dia, masyarakat masih menunggu rancangan pembangunan kembali Sade.
“Masih sekadar rencana sebenarnya,” katanya.
Galeri Muncul Seiring Perkembangan Pariwisata
Dosen Arsitektur Universitas Mataram (Unram), Liza Hani Saroya Wardi, menjelaskan alasan munculnya banyak galeri di Sade.
Menurut Liza, perkembangan ekonomi dan pariwisata mendorong perubahan fungsi ruang permukiman. Aktivitas menenun kemudian berkembang bersama munculnya galeri di sekitar rumah warga.
“Karena perkembangan ekonomi, peradaban zaman, modernisasi dan tuntutan pariwisata, galeri-galeri itu muncul,” kata Liza kepada NTBSatu, Minggu, 27 September 2026.
Galeri kemudian menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi masyarakat Sade. Aktivitas perempuan dalam menenun juga menjadi daya tarik bagi wisatawan. Namun, pertumbuhan galeri akhirnya mengubah kepadatan kawasan.
Liza menjelaskan, konsep permukiman Sade sejak awal memiliki ruang antarbangunan. Ruang tersebut berfungsi sebagai jalur sirkulasi sekaligus ruang terbuka.
Masyarakat mengenal ruang tersebut sebagai pengorong yang dalam bahasa Sasak artinya Lorong. Namun, warga kemudian menutup sebagian ruang itu dengan berugak dan galeri.
“Pengorong-pengorong itu ditutup dengan berugak, dengan galeri,” ujar akademisi yang meneliti tentang arsitektur Sade tersebut.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat kawasan semakin padat. Kepadatan itu juga mengurangi ruang gerak di antara bangunan.
“Pengorong itu sebenarnya untuk sirkulasi dan ruang napas antara hunian,” katanya.
Karena itu, pembangunan ulang tidak sekadar mengembalikan bentuk Sade sebelum kebakaran. Tim akademisi juga melihat kebutuhan menata kembali hubungan antara hunian dan aktivitas ekonomi.
Galeri Berubah Fungsi
Liza menjelaskan, penataan ulang tidak berarti masyarakat harus menghapus aktivitas perdagangan. Masyarakat masih dapat menggunakan ruang tertentu untuk aktivitas galeri.
Namun, warga perlu menggabungkan fungsi ekonomi dengan bangunan yang sudah tersedia. “Mungkin dia akan menyatukan antara gantaran (halaman, red) dengan galeri ceritanya,” kata Liza.
Dia juga membuka kemungkinan masyarakat memanfaatkan berugak sebagai ruang galeri. Konsep tersebut dapat mengurangi kebutuhan membangun galeri baru di jalur wisata.
“Jadi tidak membuat galeri secara khusus di setiap sirkulasi yang dilewati oleh wisatawan,” ujarnya. (*)




