Sampah Berserakan di Air Terjun Segenter, Pengelola Akui Kewalahan
Lombok Barat (NTBSatu) – Ramainya kunjungan wisatawan ke Air Terjun Segenter, kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Nuraksa, belum diimbangi pengelolaan sampah yang memadai. Pengunjung mengeluhkan sampah berserakan di jalur menuju air terjun hingga loket registrasi.
Kondisi tersebut menambah daftar persoalan di wisata Tahura Nuraksa yang berada di kawasan Desa Kumbi, Kecamatan Narmada. Sebelumnya, wisatawan juga mengeluhkan toilet dan berugak yang rusak serta keterbatasan tempat berganti pakaian.
Salah seorang pengunjung, Nadia Nuril, mengaku menemukan sampah berserakan saat menuju kawasan air terjun. Ia juga melihat kondisi serupa di sekitar loket registrasi.
Menurutnya, keterbatasan tempat sampah menjadi salah satu penyebab persoalan tersebut. Nadia menilai pengelola perlu meningkatkan fasilitas kebersihan agar wisatawan merasa nyaman.
“Kalau dari segi jalannya lumayan bagus, cuma mungkin dari segi fasilitasnya masih banyak yang kurang,” ujarnya kepada NTBSatu, Minggu, 1 November 2026.
Nadia berharap, pengelola mengoptimalkan retribusi untuk mendukung kebersihan dan perbaikan fasilitas. Ia juga mengkhawatirkan keselamatan pengunjung ketika musim hujan tiba.
“Kalau bisa pengelolaan retribusinya agar bisa kelola sampahnya lalu fasilitasnya sehingga pengunjung itu juga jadi lebih nyaman,” katanya.
Ia mengingatkan posisi Segenter yang berada di kawasan hulu sungai. Sampah yang pengunjung buang sembarangan berpotensi terbawa aliran air.
“Apalagi ini hulu sungai, banyak sampah yang ke bawah jadinya kalau dibuang di dekat air terjunnya,” ungkapnya.
Pengelola Akui Kewalahan
Di sisi lain, pengelola mengakui penanganan sampah masih menjadi pekerjaan berat. Pengelola Wisata Tahura Nuraksa, Djuanda Yunan Yusuf mengatakan, petugas masih menangani sampah secara mandiri.
“Untuk pengelolaan sampah kami masih kelola sendiri, maksudnya enggak ada yang PU atau apa segala macam itu kan,” jelasnya kepada NTBSatu, Minggu, 1 November 2026.
Djuanda menyebut, petugas membersihkan kawasan setiap Senin dan Jumat. Pembersihan pada Senin menyasar sampah setelah lonjakan kunjungan akhir pekan.
Sementara itu, pembersihan pada Jumat menjadi persiapan menghadapi kunjungan Sabtu dan Minggu. Menurutnya, jumlah wisatawan pada akhir pekan cukup ramai.
Namun, upaya tersebut menghadapi kendala fasilitas. Sejumlah tempat sampah rusak, sehingga pengelola harus mencari cara lain untuk menampung sampah.
Di sekitar air terjun, petugas rutin menyediakan karung sebagai tempat penampungan sementara. Akan tetapi, karung-karung tersebut kerap hilang dan sampah kembali berserakan.
“Setiap Senin dan Jumat itu kita tetap sediakan karung buat di sana kita gantung. Cuma enggak pernah utuh, setiap Senin besoknya malah banyak yang hilang dan berserakan,” tuturnya.
Djuanda menduga hewan seperti monyet mengambil karung tersebut. Namun, ia belum memastikan penyebab hilangnya karung-karung itu.
Untuk menangani sampah, pengelola mengerahkan sekitar 15 hingga 20 petugas Tahura. Mereka bergotong royong membersihkan kawasan setiap Senin dan Jumat.
Meski begitu, tenaga petugas belum menyelesaikan persoalan secara menyeluruh. Sampah kembali muncul setelah kawasan menerima lonjakan pengunjung pada akhir pekan.
Djuanda pun meminta wisatawan ikut menjaga kebersihan. Ia berharap pengunjung mengumpulkan sampah jika tidak menemukan tempat sampah yang tersedia.
“Setidaknya kalau dia tidak taruh di tong sampah yang ada, bisa dikumpulkanlah jadi satu. Jangan dibuang sembarangan di aliran sungainya,” harapnya. (*)




