NTBPolitik

DPRD NTB Nilai Patroli Tak Cukup Atasi Pembacokan di Udayana Mataram

Mataram (NTBSatu) – Anggota Komisi V DPRD NTB, Made Slamet, menilai kasus pembacokan di kawasan Udayana, Mataram, sebagai persoalan kompleks. Ia meminta pemerintah menangani kekerasan remaja melalui kerja sama lintas sektor, mulai dari keluarga hingga aparat keamanan.

Pernyataan itu muncul setelah pembacokan pada Minggu dini hari, 25 Oktober 2026, merenggut nyawa Muhammad Gibran Anugrah Aditya, pelajar SMPN 3 Mataram. Korban meninggal dunia di RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram pada Selasa, 27 Oktober 2026.

Menurut Made Slamet, tragedi tersebut tidak cukup pemerintah lihat sebagai tindak kekerasan di jalanan. Ia menilai terdapat persoalan pengawasan, lingkungan pergaulan, pendidikan, hingga ketersediaan ruang bagi remaja.

“Bagi saya, kondisi ini sangat memprihatinkan. Ini persoalan komplit sebenarnya karena dari hulu sampai ke hilir,” ujarnya kepada NTBSatu, Rabu, 28 Oktober 2026.

Ia mempertanyakan bagaimana anak di bawah umur bisa berkeliaran pada malam hari hingga membawa senjata tajam. Kondisi itu, menurutnya, perlu menjadi bahan evaluasi bagi orang tua dan lingkungan tempat tinggal.

“Bagaimana pengawasan orang tua, pengawasan di lingkungan setempat? Itu berarti longgar dan hampir tak ada,” kata legislator dari Daerah Pemilihan NTB 1, Kota Mataram tersebut.

Made Slamet menilai, keluarga menjadi lapisan pertama yang perlu memperkuat pengawasan. Namun, ia mengingatkan tanggung jawab tersebut tidak boleh berhenti di rumah.

Sekolah juga perlu mengenali perubahan perilaku siswa yang berpotensi terlibat kekerasan. Guru, menurutnya, dapat ikut mendeteksi masalah sejak dini melalui pengawasan dan pendampingan.

Selain itu, ia menyoroti minimnya ruang penyaluran minat dan bakat anak muda. Keterbatasan lapangan olahraga dan fasilitas kegiatan dinilai dapat mempersempit pilihan aktivitas positif bagi remaja.

“Kalau mereka mau main bola, lapangan tidak ada. Mau main voli, tidak ada lapangan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa lingkungan pergaulan, penyalahgunaan narkoba, dan pengaruh media sosial dapat memicu perilaku negatif pada remaja.

CCTV dan Patroli Perlu Dibarengi Pencegahan

Dari sisi keamanan kota, Made Slamet mendorong pemerintah memperluas pemasangan kamera pengawas atau CCTV di jalan-jalan strategis. Ia menilai, kawasan seperti Udayana membutuhkan pengawasan yang memadai.

Ia juga meminta aparat keamanan meningkatkan patroli, terutama pada waktu dan lokasi yang rawan terjadi kekerasan jalanan.

Namun, ia menegaskan, pengawasan jalanan saja tidak cukup. Pemerintah perlu menghubungkan langkah keamanan dengan pencegahan di tingkat keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat.

“Intinya perlu kerja sama lintas sektor. Semua harus bergerak, mulai dari rumah, orang tua, lingkungan, sekolah, aparat keamanan, pemerintah, kita semua,” kata dewan dari PDIP tersebut.

Menurut Made Slamet, penanganan yang hanya berfokus pada satu kejadian berisiko mengabaikan persoalan yang lebih luas. Ia meminta seluruh pihak membangun sistem pencegahan yang melindungi anak sekaligus memberi ruang bagi perkembangan mereka.

“Ini juga masalah mental sebenarnya. Makanya perlu keterlibatan dari tingkat paling bawah. Kita tidak bisa melihat masalah ini sepotong-sepotong,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa remaja merupakan bagian dari masa depan bangsa. Karena itu, tragedi di Udayana harus menjadi momentum untuk memperkuat perlindungan anak dan mencegah kekerasan serupa terulang.

“Karena mereka akan menjadi masa depan bangsa, jadi jangan sampai rusak,” tutupnya. (*)

Khazani Darunnafis

Khazani atau Zani adalah Jurnalis NTBSatu yang fokus menulis di isu Daerah Lombok Barat, Politik, Kebencanaan dan Human Interest. Ia merupakan lulusan Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Mataram dengan Konsentrasi Jurnalistik.

Artikel Terkait