Lombok BaratPariwisata

Air Terjun Segenter Diserbu Wisatawan, Fasilitas Rusak Jadi Keluhan

Lombok Barat (NTBSatu) – Air Terjun Segenter di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Nuraksa, Desa Kumbi, Kecamatan Narmada, menjadi alternatif wisata saat kemarau. Debit airnya masih mengalir ketika sejumlah sumber air lain mulai menyusut.

Namun, peningkatan kunjungan belum sepadan dengan kondisi fasilitas yang memadai. Sejumlah toilet dan berugak rusak, sementara pengunjung kesulitan menemukan tempat berganti pakaian setelah mandi.

Pengelola Wisata Tahura Nuraksa, Djuanda Yunan Yusuf mengatakan, kunjungan meningkat sejak musim kemarau. Wisatawan memilih Segenter karena debit air di kawasan Aik Nyet, Sesaot, mulai berkurang.

“Sekarang musim panas jadi ramai. Soalnya di Aik Nyet, Sesaot, airnya berkurang debitnya, jadi rata-rata wisatawan pindah ke sini,” kata Djuanda kepada NTBSatu, Minggu, 25 Oktober 2026.

Menurutnya, kunjungan pada hari kerja tidak menentu. Namun, pendapatan dari tiket masuk sejak Juli perkiraannya mencapai Rp500 ribu per hari.

Pada akhir pekan, pendapatan bisa menembus Rp1,5 juta. Dengan tarif wisatawan domestik Rp5.000 per orang, angka itu setara sekitar 300 kunjungan berbayar.

Pengunjung yang berkemah pengelola kenakan tarif berbeda, yakni Rp10.000 per orang. Sementara itu, wisatawan mancanegara tarifnya Rp25.000.

Djuanda menjelaskan, pendapatan tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan jumlah kunjungan selama beberapa bulan terakhir. Pengelola sempat menggratiskan tiket karena kehabisan karcis resmi.

“Kami kehabisan tiket, jadinya tiga bulan lebih gratis. Kami tidak berani mengambil bayaran kalau tidak ada tiket,” ujarnya.

Ia mengatakan, karcis baru tiba pada hari wawancara sehingga pengelola kembali memberlakukan sistem tiket. Menurut Djuanda, masalah pengadaan tiket itu berkaitan dengan kendala di tingkat pusat.

Pengunjung Kesulitan Berganti Pakaian

Keluhan fasilitas juga dirasakan pengunjung. Emy Husrul Linny, 23 tahun, memilih Segenter karena lokasinya relatif dekat dari Kota Mataram.

Ia juga mempertimbangkan akses jalan yang dinilainya cukup memungkinkan untuk dilalui kendaraan. Suasana sejuk dan pemandangan alam menjadi daya tarik tambahan saat cuaca panas.

Namun, Emy menilai fasilitas pendukung belum memadai. Ia kesulitan menemukan tempat berganti pakaian setelah mandi di air terjun.

“Kalau kita mandi, tempat gantinya tidak ada. Coba kalau bisa dibuatkan di bawah biar kita tidak capek naik,” kata Emy kepada NTBSatu, Minggu, 25 Oktober 2026.

Ia menyarankan pengelola menyediakan ruang ganti sederhana jika pembangunan fasilitas permanen belum memungkinkan. Menurutnya, fasilitas berbahan kayu pun dapat menjadi solusi awal.

Emy juga menyoroti kondisi berugak yang sudah berlubang. Ia berharap pengelola memperbaiki fasilitas dan menjaga kebersihan kawasan wisata.

“Kalau fasilitasnya lebih bersih, kita lebih enak di sini. Harapannya fasilitas ditingkatkan saja,” ujarnya.

Perbaikan Tunggu Anggaran

Djuanda mengakui kerusakan fasilitas menjadi persoalan yang belum tertangani. Ia menyebut, toilet dan berugak sebagai fasilitas yang membutuhkan perbaikan segera.

Pengelola, kata dia, sudah beberapa kali mengajukan permintaan perbaikan. Namun, hingga kini mereka belum memperoleh anggaran dari pemerintah pusat untuk menangani kerusakan tersebut.

Ia berharap, pemerintah mengalokasikan anggaran perbaikan pada tahun depan. Prioritasnya mencakup toilet, ruang ganti, berugak, dan tempat duduk pengunjung.

Djuanda menyebut Dinas Kehutanan Provinsi NTB bertanggung jawab atas pengelolaan kawasan Segenter. Ia juga mengatakan retribusi wisata masuk ke pemerintah provinsi.

“Retribusinya masuk provinsi, tapi tidak ada perubahan. Harapannya tahun depan ada anggaran untuk perbaikan fasilitas,” katanya. (*)

Khazani Darunnafis

Khazani atau Zani adalah Jurnalis NTBSatu yang fokus menulis di isu Daerah Lombok Barat, Politik, Kebencanaan dan Human Interest. Ia merupakan lulusan Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Mataram dengan Konsentrasi Jurnalistik.

Artikel Terkait