NTB

Kemarau Panjang Masih Berjalan, Wilayah NTB Catat Lebih dari 100 Hari Tanpa Hujan

Mataram (NTBSatu) – Musim kemarau yang melanda Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.

Berdasarkan pemutakhiran data klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) per 20 Oktober 2026, seluruh kabupaten dan kota di provinsi ini telah melewati rentang waktu lebih dari 100 hari tanpa hujan.

Kondisi tersebut menempatkan seluruh wilayah NTB dalam status kekeringan ekstrem panjang karena deret hari keringnya melampaui ambang batas 60 hari.

Secara nasional, NTB menempati urutan keempat sebagai daerah kurang hujan ekstrem panjang dengan durasi maksimal mencapai 155 hari. Posisi ini berada di bawah Jawa Tengah (172 hari), Jawa Timur (169 hari), dan Nusa Tenggara Timur (158 hari), serta di atas Bali (153 hari).

Sebaran Durasi Kekeringan Antardaerah

Data BMKG memperlihatkan pola kekeringan yang lebih panjang di wilayah bagian timur dan tengah NTB, yaitu di Pulau Sumbawa serta Lombok bagian timur dan tengah. Kabupaten Bima mencatat durasi hari tanpa hujan (HTH) terlama di NTB, yakni 155 hari.

Durasi tersebut terpantau melalui pos pengamatan di Belo, Bolo, Asakota, Raba, dan Soromandi. Sementara itu, Kabupaten Sumbawa mencatat 154 hari tanpa hujan melalui pos pemantauan Lape, Sumbawa, Unter Iwes, dan Moyo Utara.

Kabupaten Lombok Timur (Labuhan Haji, Sukamulia, Jerowaru, Terara) dan Kabupaten Lombok Tengah (Pujut, Praya Barat, Praya Timur) sama-sama mencatatkan 153 hari. Adapun Kabupaten Dompu (Pajo, Kilo, Woja, Kempo) dan Kabupaten Sumbawa Barat (Jereweh, Maluk, Taliwang, Brang Rea) masing-masing mencatat 152 hari dan 150 hari tanpa hujan.

Sebaliknya, durasi hari kering di Pulau Lombok bagian barat dan utara relatif lebih singkat. Kabupaten Lombok Barat mencatat 129 hari tanpa hujan di wilayah Lembar, Sekotong, dan Labuapi. Sedangkan Kabupaten Lombok Utara mencatat 122 hari di Tanjung, Gangga, Pemenang, dan Kayangan.

Kota Mataram mencatatkan deret hari kering terpendek di NTB, yaitu 116 hari, berdasarkan pantauan pos pengamatan di Selaparang, Cakranegara, dan Sekarbela.

Meski demikian, seluruh daerah tersebut tetap berada jauh di atas standar kategori kekeringan ekstrem panjang.

Gambaran Kondisi Secara Nasional

BMKG memantau pergerakan musim ini melalui 5.030 pos pengamatan hujan di seluruh wilayah Indonesia. Dari total pos pengamatan tersebut, sebanyak 1.707 lokasi atau sekitar 33,94 persen kini berada dalam kategori ekstrem panjang.

Proporsi ini merupakan yang terbesar jika membandingkan dengan kategori lainnya. Selebihnya, sebanyak 391 lokasi (7,77 persen) masuk kategori sangat panjang, 329 lokasi (6,54 persen) kategori panjang. Selanjutnya, 602 lokasi (11,97 persen) kategori menengah, 708 lokasi (14,08 persen) kategori pendek. Terakhir, 550 lokasi (10,93 persen) kategori sangat pendek.

Hanya 743 lokasi atau 14,77 persen dari total titik pantau nasional yang masih mencatatkan curah hujan. Mengingat minimnya curah hujan, BMKG mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk mengantisipasi potensi risiko krisis air serta dampak lingkungan lanjutan. (*)

Artikel Terkait