Ekonomi Bisnis

Perbedaan Harga Sembako di KDMP Picu Perdebatan Warganet

Mataram (NTBSatu) – Penjualan bahan pokok dengan harga di bawah rata-rata pasar di Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) menjadi perbincangan hangat warganet di media sosial. Perbedaan harga yang signifikan ini memicu perdebatan mengenai dampaknya terhadap keberlangsungan pedagang kecil di pasar tradisional.

Isu ini mencuat usai sebuah akun Threads mengunggah pengalaman pertamanya saat melihat harga barang di koperasi tersebut.

“Mantep banget ya harga di KDMP. Bisa di bawah harga di sasetnya,” ujarnya, mengutip akun Threads @siwiajaaaaaaasih pada Sabtu, 24 Oktober 2026.

Melalui unggahan akun tersebut, terlihat deretan produk kebutuhan rumah tangga di rak KDMP dengan label harga yang relatif terjangkau. Bumbu instan merek Racik, misalnya, dijual seharga Rp850 per bungkus.

Sementara itu, margarin Palmia ukuran 200 gram dibanderol Rp6.400, dan sabun cuci piring Kilau Nipis kemasan pouch dijual Rp4.000. Selain itu, minyak goreng merek Fortune kemasan dua liter tercatat dijual seharga Rp40.800 di koperasi tersebut.

Sorotan terhadap Pedagang Tradisional

Fenomena harga miring ini memicu respons beragam dari pengguna internet. Sebagian pihak menilai skema harga tersebut memberatkan pedagang pasar konvensional yang harus membeli barang modal dengan harga lebih tinggi.

Pemilik akun tersebut mengeluhkan kondisi persaingan harga yang ia nilai tidak seimbang bagi pedagang kecil.

“Apakabar para pedagang market biasa inii. Harga jual mereka = harga beli penjual market biasa. Mau nangisin tapu ini Indonesia. Sakit tak berdarah. Bersaing dengan pajak sendiri,” lanjutnya.

Di sisi lain, seorang warganet torot berkomentar dan menyoroti harga minyak goreng di pasaran. Ia mempertanyakan perbedaan harga yang terjadi.

“Kok bisa minyak goreng Rp40 ribu. Padahal kan udah hampir Rp50 ribu,” tulis akun @squirrel_chunji.

Warganet yang memiliki utas tersebut juga memberikan tanggapan serupa. Ia membagikan perbandingan harga di ritel modern dengan KDMP.

“Di indogrosir segini ka. Ini pun karena lagi promo (Rp41.700),”

Dinamika Reaksi Publik

Perdebatan mengenai kebijakan harga ini juga memancing ragam pandangan lain dari warganet. Sebagian masyarakat menilai tanggapan publik cenderung serba salah dalam merespons dinamika harga bahan pokok.

Seorang warganet memberikan reaksinya terhadap perdebatan yang berkembang di kolom komentar.

“Dikasih murah komen, dikasih mahal komen. Netizen memang enggak ada syukurnya,” tulis akun @ervinjrlalu.

Pandangan senada juga terluhat dari tanggapan warganet lain yang menyoroti respons publik.

“Mahal salah. Murah salah. Netizen Indo memang terlalu mudah menjatuhkan sesuatu,” tulis akun @singgihsetiadi5.

Sementara itu, warganet lainnya menilai kontradiksi respons masyarakat saat menghadapi perubahan harga.

“Giliran di kasih kopdes murah protes. Kalau sembako mahal demo binunnyaa,” tulis akun @acrylichitam.

Dinamika harga di KDMP ini terus menuai perhatian luas karena menyentuh dua kepentingan yang saling bersinggungan, yakni peningkatan daya beli masyarakat desa dan perlindungan ekosistem pedagang pasar tradisional. (*)

Artikel Terkait