Tracing TBC di Lombok Timur Temukan Temukan 442 Warga Positif
Lombok Timur (NTBSatu) – Dinas Kesehatan Lombok Timur menargetkan 19.600 warga menjalani tracing Tuberkulosis (TBC) hingga Desember 2026. Program tersebut menyasar warga yang memiliki risiko tertular TBC di 196 desa.
Kepala Dinas Kesehatan Lombok Timur, Lalu Aries Fahrozi mengatakan, program tracing TBC sudah berjalan sejak Agustus 2026. Hingga kini, petugas telah menjangkau sekitar 60-70 desa.
“Targetnya 196 desa. Setiap desa kita minta menghadirkan 100 orang yang memiliki risiko tertular TBC,” kata Aries, Selasa, 29 September 2026.
Dalam pelaksanaannya, Dinas Kesehatan menyasar orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC. Mereka antara lain anggota keluarga yang tinggal serumah hingga warga yang tinggal di sekitar pasien.
Petugas kemudian melakukan pemeriksaan untuk mendeteksi penularan sejak awal. Jika menemukan kasus positif, tenaga kesehatan langsung menyiapkan penanganan dan terapi.
Data capaian skrining TBC menggunakan X-ray portable menunjukkan petugas telah memeriksa 5.182 warga dari 50 lokasi atau desa.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 442 orang atau 8,5 persen menunjukkan hasil positif, sedangkan 4.740 orang lainnya atau 91,5 persen mendapat hasil negatif.
Aries mengatakan, angka tersebut masih dapat bertambah karena program tracing terus berjalan hingga Desember.
“Kalau angka kasus, dengan adanya tracing ini memang secara teori kita temukan sekitar 10-15 persen dari 100 orang tadi,” ujarnya.
Sebelum pelaksanaan tracing, kata Aries, data sementara mencatat sekitar 982 penderita TBC di Lombok Timur. Setelah Dinas Kesehatan memperluas pemeriksaan, jumlah temuan kasus diperkirakan mencapai sekitar seribuan.
Sasar Kontak Erat Pasien
Aries menjelaskan, Dinas Kesehatan tidak hanya menangani warga yang sudah positif TBC.
“Kalau positif kita lakukan penanganan, terapi sampai tuntas. Kemudian orang di sekitar yang kontak erat kita berikan terapi pencegahan TBC walaupun belum positif,” jelasnya.
Langkah tersebut bertujuan mencegah bakteri TBC berkembang dan menimbulkan penyakit pada orang yang memiliki risiko penularan.
Dinkes menargetkan penanganan kasus berjalan sampai tuntas untuk mendukung target eliminasi TBC pada 2030. Pemerintah juga melibatkan camat, pemerintah desa, dan kader dalam memperluas pelacakan kasus.
Selain tracing TBC, Dinkes mengintegrasikan kegiatan tersebut dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Integrasi itu memungkinkan petugas melakukan pemeriksaan TBC sekaligus pemeriksaan kesehatan lainnya dalam satu kegiatan di desa.
“Jadi tracing TBC ini kita integrasikan dengan CKG. Kita turun melakukan tracing TBC sekaligus melakukan cek kesehatan gratis. Semua kita integrasikan agar satu kali jalan,” ujarnya.
Aries memastikan seluruh puskesmas di Lombok Timur siap mendukung program tersebut. Dinkes juga menyiapkan obat untuk mendukung pengobatan pasien TBC.
Ia mengajak masyarakat memanfaatkan layanan pemeriksaan gratis, terutama warga yang memiliki risiko kontak dengan pasien TBC. (*)




