Fakta-fakta Dugaan Penemuan Bahtera Nabi Nuh di Turki
Mataram (NTBSatu) – Tim peneliti gabungan lintas negara mengumumkan penemuan pecahan tembikar purba serta pengambilan sampel tanah dari kawasan formasi Durupinar, dekat Gunung Agri (Ararat), Turki, yang diduga sebagai situs Bahtera Nabi Nuh.
Penyelidikan lapangan yang Profesor Cenker Atila dari Departemen Arkeologi Sivas Cumhuriyet University pimpin ini menduga, material tembikar tersebut berasal dari masa sebelum peristiwa banjir besar dalam tradisi keagamaan Abrahamik.
“Material organik dan sisa kayu akan memberikan data yang sangat penting bagi kami. Dengan penanggalan karbon yang akan kami lakukan terhadap material organik. Kami akan memahami apakah benar-benar ada kapal di sini,” katanya, mengutip Turkiye Today pada Senin, 28 September 2026.
Rekam jejak Penelitian
Formasi Durupinar pertama kali menarik perhatian publik internasional setelah foto udara Angkatan Udara Turki mengabadikan struktur menyerupai kapal raksasa pada 1959. Sejak saat itu, berbagai ekspedisi ilmiah dan independen melakukan studi dengan kesimpulan yang saling bertolak belakang.
Sebagian peneliti dan peneliti amatir terdahulu mengklaim telah menemukan jejak kayu terpetrifikasi dan kandungan besi tinggi di area dinding formasi. Sebaliknya, kalangan ahli geologi arus utama menekankan bahwa Durupinar hanyalah bentuk bentang alam limonit dan formasi batuan alamiah yang terbentuk akibat pergerakan tanah serta erosi vulkanik.
Perbedaan hasil riset masa lalu inilah yang memicu tim modern 2026 melakukan pendekatan akademis berbasis penanggalan karbon dan sampel laboratorium.
Tembikar Diduga Era Pra-Banjir
Temuan pecahan tembikar di sekitar lokasi pemindaian menjadi salah satu petunjuk fisik penting selama eksplorasi lapangan di formasi Durupinar.
Tim peneliti mengidentifikasi artefak tembikar tersebut secara terpisah saat melakukan pengambilan sampel tanah di kawasan penelitian. Dugaan sementara menunjukkan, tembikar tersebut berasal dari era sebelum banjir besar.
Kendati demikian, temuan fisik ini masih berstatus hipotesis awal yang memerlukan konfirmasi lanjutan melalui pemeriksaan spesifikasi material dan penanggalan usia laboratorium.
Pengumpulan 1.000 Sampel Tanah
Secara historis metode eksplorasi subsurface dan pengajuan geologi di formasi Durupinar sudah mulai sejak tahun 1980-an hingga 1990-an.
Operasi riset lapangan ini berlangsung selama 90 hari di dekat Dogubayazit, Provinsi Agri, dengan melibatkan 20 ilmuwan ahli yang berasal dari lima negara. Sebelum mengekstraksi material tanah, tim melakukan pemetaan menyeluruh menggunakan sistem GPS, survei dua dan tiga dimensi, hingga pemindaian radar bawah tanah.
Pemindaian radar membantu peneliti mengidentifikasi titik-titik krusial yang memerlukan pemodelan dan pengambilan sampel tanah. Dari proses tersebut, tim mengumpulkan sekitar 1.000 sampel tanah dari 150 lokasi berbeda di area formasi.
Sampel inti tanah (core samples) yang ada kini telah dikirim ke fasilitas laboratorium di Ankara untuk menjalani pemeriksaan geologi terperinci.
Uji Penanggalan Karbon
Fokus utama penyelidikan ilmiah di formasi Durupinar saat ini tertuju pada analisis material bawah tanah. Hal ini bertujuan guna mendeteksi ada atau tidaknya sisa kayu dan elemen organik struktur kapal.
Para ilmuwan menggunakan metode penanggalan karbon sepanjang musim dingin untuk memetakan usia presisi dari sampel organik yang telah terisolasi.
Rangkaian analisis laboratorium selama musim dingin diharapkan mampu mengonfirmasi keberadaan struktur fisik di bawah permukaan tanah. Penelitian memproyeksikan kawasan bentang alam alami dekat Gunung Agri akan terus berlanjut hingga beberapa tahun mendatang.
“Kami akan mendapatkan bukti definitif sepanjang musim dingin. Jika Bahtera Nabi Nuh benar-benar ada, kita dapat mengatakan bahwa tempatnya adalah formasi Durupinar,” ujar Atila.
Belum Menyimpulkan Sebagai Bahtera Nabi Nuh
Meskipun menghimpun sejumlah fakta penemuan baru, tim ilmuwan mengingatkan publik untuk tidak terburu-buru menarik kesimpulan. Baik pecahan tembikar maupun sampel tanah bawah permukaan belum membuktikan keberadaan Bahtera Nabi Nuh secara mutlak.
Tim peneliti nantinya akan mengumumkan dan mengungkap fakta tersebut setelah seluruh hasil analisis laboratorium selesai. Mereka berencana mengumumkan hasil pada musim dingin tahun 2026/2027.
Setelah analisis laboratorium musim dingin selesai, tim ilmuwan lintas negara akan menyusun peta pemindaian bawah tanah tahap dua. Mereka akan melanjutkan ekskavasi lanjutan di formasi Durupinar pada musim panas mendatang.(*)




