Pendidikan

Dosen Unram Dampingi Warga Desa Tanjung Olah Nangka Jadi Produk Bernilai Tambah

Mataram (NTBSatu) – Melimpahnya buah nangka saat musim panen menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat Desa Tanjung, Kabupaten Lombok Utara. Ketika produksi meningkat, tidak seluruh buah dapat terserap pasar dalam kondisi segar. Akibatnya, sebagian hasil panen berisiko mengalami penurunan mutu sebelum sempat dijual.

Kondisi tersebut mendorong tim dari Universitas Mataram (Unram) untuk memperkenalkan teknologi pengolahan sederhana yang dapat diterapkan masyarakat. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat, tim mendampingi KSU Gumi Utara Sejati dalam mengolah buah nangka menjadi manisan dengan menerapkan prinsip pengolahan pangan yang baik.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Agustus 2026 ini melibatkan dosen dan tim dari Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri (FATEPA) Universitas Mataram, bersama mitra masyarakat di Desa Tanjung. Program tersebut dirancang untuk membantu masyarakat memanfaatkan komoditas lokal sekaligus mengenalkan alternatif pengolahan yang dapat meningkatkan nilai guna buah nangka.

IKLAN

Desa Tanjung dikenal memiliki ketersediaan buah nangka yang cukup tinggi, terutama ketika memasuki musim panen. Selama ini, pemanfaatan buah masih didominasi oleh penjualan dalam bentuk segar. Situasi tersebut dapat menimbulkan persoalan ketika jumlah buah yang tersedia jauh lebih besar dibandingkan kemampuan pasar dalam menyerapnya.

Tim pengabdian kemudian mengajak mitra melihat nangka tidak hanya sebagai buah segar, tetapi juga sebagai bahan baku produk olahan. Salah satu alternatif yang diperkenalkan adalah manisan nangka, yang memungkinkan buah diolah dan dipasarkan dalam bentuk berbeda.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat tidak hanya mendapatkan penjelasan secara teori. Peserta juga terlibat langsung dalam proses pengolahan sehingga teknologi yang diperkenalkan dapat dipahami melalui praktik.

IKLAN

Belajar Mengolah Nangka Secara Higienis

Proses pelatihan dimulai dari pemilihan bahan baku. Buah nangka yang digunakan disortir dan dibersihkan sebelum memasuki tahap pengolahan. Peserta kemudian diperkenalkan dengan teknik penanganan bahan, termasuk penggunaan larutan garam untuk membantu mengurangi sisa getah serta perendaman menggunakan larutan kapur sirih untuk membantu mempertahankan tekstur buah.

Pada tahap berikutnya, tim memperagakan pembuatan larutan sirup berbahan dasar gula. Larutan tersebut dipanaskan pada suhu sekitar 75–80°C dan ditambahkan asam sitrat. Penggunaan formulasi dan kondisi proses tersebut ditujukan untuk memperoleh karakteristik produk yang sesuai sekaligus mendukung kestabilan mutu selama pengolahan.

Peserta juga memperoleh pemahaman mengenai pentingnya kebersihan selama proses produksi. Mulai dari kebersihan bahan, peralatan, lingkungan kerja hingga higiene personal menjadi bagian dari materi yang diberikan.

Menurut tim pengabdian, aspek tersebut penting karena pengembangan produk pangan masyarakat tidak cukup hanya mengandalkan cita rasa. Produk yang akan dipasarkan juga perlu dibuat dengan memperhatikan keamanan, kebersihan, konsistensi proses, serta informasi yang jelas bagi konsumen.

Tidak Berhenti pada Proses Produksi

Program pengabdian ini tidak hanya berfokus pada bagaimana membuat manisan nangka. Tim juga memperkenalkan aspek yang berkaitan dengan pengemasan dan pelabelan produk.

Mitra diarahkan untuk memperhatikan informasi penting pada label, seperti nama produk, komposisi, berat bersih, tanggal kedaluwarsa, dan identitas produsen. Kemasan yang lebih informatif diharapkan dapat membantu konsumen memperoleh informasi yang diperlukan sekaligus mendukung tampilan produk ketika dipasarkan.

Pendampingan lanjutan juga dirancang untuk membantu kelompok menjaga konsistensi proses produksi, menerapkan higiene dan sanitasi, serta mengembangkan kemasan dan identitas produk. Dengan demikian, kegiatan tidak berhenti pada pelatihan satu kali, tetapi diarahkan menuju kemampuan kelompok untuk mengelola kegiatan produksi secara lebih mandiri.

Pengolahan buah menjadi produk pangan alternatif memiliki arti penting bagi daerah yang memiliki produksi nangka cukup melimpah. Ketika buah tidak seluruhnya terserap sebagai produk segar, teknologi pengolahan dapat menjadi salah satu pilihan untuk memanfaatkan hasil panen tersebut.

Melalui diversifikasi produk, masyarakat memiliki alternatif pemanfaatan buah di luar penjualan segar. Pendekatan ini juga sejalan dengan upaya mengurangi potensi kehilangan hasil pascapanen dan mendorong pemanfaatan sumber daya pangan lokal secara lebih optimal.

Bagi KSU Gumi Utara Sejati, pengenalan teknologi pengolahan nangka juga menjadi langkah awal untuk memperluas kemampuan kelompok dalam mengembangkan produk berbasis komoditas lokal.

Kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana perguruan tinggi dapat berperan dalam menjembatani pengetahuan dan teknologi dengan kebutuhan masyarakat. Kolaborasi antara akademisi, pemerintah desa, dan kelompok masyarakat menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

Sejalan dengan Agenda Pembangunan Berkelanjutan

Program pengolahan nangka di Desa Tanjung juga memiliki keterkaitan dengan sejumlah target pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Pemanfaatan komoditas lokal mendukung penguatan ketahanan pangan, sementara peningkatan keterampilan masyarakat dalam pengolahan dan pengelolaan produk pangan membuka peluang pengembangan aktivitas ekonomi berbasis potensi daerah. Dari sisi lingkungan dan pangan, pengolahan juga diarahkan untuk membantu menekan risiko kehilangan hasil pascapanen.

Tim mengaitkan kegiatan tersebut dengan SDG 2 tentang Tanpa Kelaparan, SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Meski demikian, tim mencatat bahwa dampak program terhadap peningkatan pendapatan, umur simpan produk, penurunan kehilangan hasil, dan keberlanjutan usaha masih memerlukan evaluasi lebih lanjut menggunakan indikator yang terukur.

Dengan adanya kegiatan ini, buah nangka yang sebelumnya menghadapi persoalan ketika produksi melimpah mulai diperkenalkan sebagai bahan baku produk olahan yang memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut. Bagi masyarakat Desa Tanjung, penguasaan teknologi pengolahan pangan menjadi salah satu modal untuk mengoptimalkan potensi komoditas lokal sekaligus membuka kemungkinan pengembangan usaha pangan berbasis masyarakat. (*)

Artikel Terkait