Dosen Universitas Mataram Latih Warga Lombok Utara Olah Salak dalam Sirup
Mataram (NTBSatu) – Tim dosen dan mahasiswa Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Mataram (Unram) memberikan pelatihan pengolahan buah salak kepada masyarakat di Desa Tanjung, Kabupaten Lombok Utara.
Salak diolah menjadi produk buah dalam sirup sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian setempat.
Kegiatan bertajuk “Transfer Teknologi Pengawetan Buah Salak dalam Mendukung Program Hilirisasi Hasil Pertanian di Desa Tanjung, Lombok Utara” itu diketuai oleh Dr. Rucitra Widyasari, S.TP., M.Si. dan melibatkan Koperasi Serba Usaha (KSU) Gumi Utara Sejati sebagai mitra.
Pelatihan tidak hanya berisi penyampaian materi. Peserta mempraktikkan secara langsung tahapan pengolahan salak. Mulai dari sortasi buah, pengupasan, perendaman, pencucian, penirisan, pemotongan, penyiapan larutan sirup, hingga pengemasan.
Ketua tim pengabdian, Dr. Rucitra Widyasari, S.TP., M.Si., mengatakan alasan memilih pendekatan praktik agar masyarakat bisa memahami dan menerapkan teknologi tersebut.
“Kami tidak ingin kegiatan ini berhenti pada penyampaian materi. Masyarakat perlu memahami setiap tahapan pengolahan, mulai dari pemilihan bahan baku hingga pengemasan. Salak memiliki potensi untuk kita kembangkan menjadi produk olahan. Sehingga tidak hanya dipasarkan dalam bentuk buah segar,” kata Rucitra, Senin, 21 September 2026.
Menurut Rucitra, pengolahan hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah merupakan salah satu bentuk hilirisasi yang dapat diterapkan pada komoditas lokal. Teknologi yang diperkenalkan dalam kegiatan ini dirancang relatif sederhana agar memungkinkan untuk diterapkan dan dikembangkan lebih lanjut oleh masyarakat.
Dalam praktiknya, peserta juga diperkenalkan pada proses pembuatan larutan sirup sebagai media pengolahan. Tahapan tersebut dipadukan dengan penanganan buah sebelum pengemasan untuk memberikan pemahaman mengenai proses pengolahan secara utuh.
Ketua KSU Gumi Utara Sejati, Dadang Syarif Hidayatullah mengatakan, pelatihan tersebut memberi kesempatan kepada masyarakat untuk mengenal alternatif pemanfaatan hasil pertanian melalui praktik secara langsung.
“Yang penting bagi kami bukan hanya mengetahui bahwa salak dapat diolah, tetapi masyarakat juga memahami prosesnya dan dapat mempraktikkannya. Pengetahuan seperti ini bisa menjadi dasar untuk mengembangkan produk sesuai dengan potensi dan kebutuhan masyarakat,” kata Dadang.
Mahasiswa Universitas Mataram turut terlibat dalam kegiatan tersebut, mulai dari persiapan hingga pendampingan peserta selama praktik. Keterlibatan mahasiswa memberikan pengalaman langsung dalam menerapkan ilmu dan teknologi pangan di tengah masyarakat.
Bagi mahasiswa, kegiatan pengabdian juga menjadi ruang untuk memahami persoalan pengolahan hasil pertanian di tingkat lapangan. Pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan dapat diterapkan dalam konteks nyata, mulai dari penanganan bahan baku hingga pengembangan produk pangan.
Kegiatan ini mempertemukan perguruan tinggi, koperasi, mahasiswa, dan masyarakat dalam pemanfaatan teknologi pangan berbasis komoditas lokal. Pengolahan salak dalam sirup menjadi salah satu contoh bagaimana hasil pertanian dapat dikembangkan menjadi produk olahan dengan nilai tambah, tanpa hanya bergantung pada pemasaran dalam bentuk buah segar. (*)




