Dosen Unram Tembus Top 2% Ilmuwan Dunia, Angkat Limbah Lokal ke Level Global
Mataram (NTBSatu) – Dosen Universitas Mataram (Unram), Prof. Dr. Nasmi Herlina Sari, S.T., M.T., berhasil menembus daftar top 2% ilmuwan dunia. Capaian ini ia raih melalui riset yang konsisten di bidang material manufaktur, khususnya komposit.
“Untuk mencapai top 2% itu bukan sesuatu yang instan. Ini proses panjang, harus konsisten meneliti dan publikasi internasional,” ujarnya kepada NTBSatu, Selasa, 5 Mei 2026.
Berlatar belakang teknik mesin, Nasmi mengembangkan material komposit yang kuat, ringan, dan tahan panas dengan memanfaatkan limbah lokal NTB.
Salah satu temuannya adalah pemanfaatan serat kulit jagung sebagai peredam suara. Ia menemukan struktur lumen dalam kulit jagung mampu mengubah energi suara menjadi energi panas.
“Dari situ bisa dimanfaatkan sebagai material peredam suara untuk banyak hal,” jelas dosen Fakultas Teknik Unram ini.
Selain itu, timnya juga mengolah serbuk batang tembakau menjadi bahan alternatif pengganti kayu. “Kekuatannya lebih tinggi dan lebih ringan dibandingkan kayu,” katanya.
Saat ini, risetnya berkembang pada pemanfaatan serat tanaman lokal lain untuk material konstruksi ringan yang berpotensi diaplikasikan di sektor otomotif.
Konsistensi dan Kolaborasi
Prof. Nasmi menegaskan, konsistensi menjadi faktor utama dalam mencapai pengakuan global. Menurutnya, peneliti harus fokus pada satu bidang agar membangun kepakaran yang kuat. “Kalau ingin diakui global, harus konsisten di satu scope,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi, terutama dengan peneliti internasional untuk meningkatkan kualitas publikasi. “Bukan mempermudah, tetapi meningkatkan kualitas tulisan kita di mata reviewer,” jelasnya.
Riset Harus Berdampak
Menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya melakukan penelitian, tetapi memastikan riset tetap relevan dan berdampak. “Tantangan terbesar bagaimana riset ini terus berjalan dan punya dampak. Tanpa dukungan, itu sulit,” katanya.
Meski dukungan dari Pemerintah Pusat dan kampus sudah ada, ia menilai kolaborasi dengan pemerintah daerah dan industri masih perlu diperkuat. “Supaya riset tidak berhenti di publikasi, tetapi bisa jadi produk,” ujarnya.
Dorong Lebih Banyak Peneliti NTB Mendunia
Meski telah mencapai pengakuan global, Prof. Nasmi menilai, capaian tersebut belum cukup merepresentasikan ekosistem riset di NTB.
Ia berharap, ke depan semakin banyak peneliti dari daerah yang mampu menembus tingkat dunia. “Saya tidak ingin hanya satu. Harapannya banyak peneliti NTB yang bisa masuk top 2%,” katanya.
Ia pun mengajak generasi muda untuk berani meneliti dan memanfaatkan potensi lokal sebagai kekuatan. “Dari daerah pun kita bisa bersaing di tingkat global,” tutupnya. (Caca)



